Saturday, October 25, 2008

Solo, WHC atau WTC ??


25 hingga 30 Oktober 2008 ini Kota Solo menjadi tuan rumah gelaran World Heritage Cities Conference & Expo. Seperti yang dijelaskan dalam situs resminyaWorld Heritage Cities Conference & Expoatau Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia (selanjutnya ditulis sebagai WHC) adalahsebuah forum yang didedikasikan kepada pelestarian terintegrasi warisan budaya benda  dan takbenda  pada kota-kota bersejarah, utamanya pada kota-kota yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, atau kota-kota yang memiliki warisan budaya takbenda  yang diakui oleh UNESCO. Setiap dua tahun konferensi ini mengumpulkan para pakar dalam bidang pelestarian kota bersejarah serta pemanfaatannya untuk pariwisata dan peningkatan perekonomian kota; juga para walikota, politikus dan birokrat yang, serta memberikan kesempatan guna bertukar pengalaman dan mendiskusikan berbagai masalah terkait.

WHC yang diselenggarakan di Kota Solo kali ini merupakan WHC ke-4 yang bertema “Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Pembangunan Kota Berkelanjutan”. Pemilihan Kota Solo sebagai tuan rumah event WHC tentunya sudah dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang cukup baik dan matang, namun benar sudah pas-kah Kota Solo secara kondisi sosial budaya untuk berperan sebagai tuan rumah WHC?? 

Beberapa waktu belakangan ini di Kota Solo baik itu oleh Pemkot maupun masyarakatnya gencar mengusung berbagai slogan yang bertujuan menunjukkan bahwa Kota Solo sebagai kota budaya. Berbagai slogan dipopulerkan di KotaSolo, antara lain : Solo Kota Budaya, Solo The Spirit of Java, Solo Kuthaku Jawa Budayaku, dsb. Dalam kaitannya dengan tema WHC yang salah satunya mengusung isu pembangunan kota berkelanjutan, mestinya Kota Solo juga harus dapat menunjukkan bahwa pembangunan di Kota Solo berkelanjutan dan berwawasan budaya. Sayangnya kondisi yang diharapkan, belumlah demikian. Solo sejak awal berdirinya hingga sekarang telah mengalami berbagai perubahan, baik fisik dan budayanya. Kota Solo dari waktu ke waktu selalu menampakkan adanya pergeseran budaya. Budaya jawa sebagai budaya asli Solo rupanya sekarang sudah tidak mendominasi suasana Kota Solo, hal ini tercermin dari suasana di Kota Solo itu sendiri. 

Apabila kita berjalan-jalan dan mencermati sudut-sudut Kota Solo ternyata budaya modern sudah jauh merasuk mengiringi berbagai pola dan aspek kehidupan masyarakatnya. Sepanjang jalan Slamet Riyadi yang notabene sebagai salah satu ‘wajah’ Kota Solo tidak menampakkan dominasi budaya Solo. Jajaran reklame dan berbagai identitas ekonomi lebih banyak menghiasi jalan protokol Kota Solo itu. Anjuran Pemkot untuk penulisan huruf jawa dalam berbagai identitas sosial juga tidak sepenuhnya dilaksanakan masyarakatnya. Berdirinya beberapa monumen (patung) juga tidak menambah kemurnian budaya Kota Solo. Pemagaran alun-alun dengan teralis yang ternyata sangat bertentangan dengan falsafah alun-alun itu sendiri, yaitu simbolisme sikap manusia yang mengumbar hawa nafsu duniawi. Taman Budaya Jawa Tengah yang sarat dengan pertunjukan budaya kalah diminati daripada Bioskop 21. Bumbu perdagangan (pasar malam) terasa lebih dominan dibandingkan esensi Grebeg Sekaten, Grebeg Maulud, Festival Bengawan Solo, dll. Berbagai pembangunan fisik nampaknya juga lebih diarahkan pada kepentingan ekonomi (perdagangan). Berdirinya beberapa apartemen mewah, mall dan pusat perdagangan cukup marak dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya semua itu tidak diikuti dengan pembangunan budaya secara besar-besaran.


Ternyata apabila kita analisis kebelakang, pergeseran dan perubahan budaya ini sudah terjadi sejak lama. Pada jaman kolonial Belanda masuknya nilai dan kepentingan yang ternyata ‘menabrak’ budaya setempat telah terjadi. Sebagai contoh, pembangunan rel kereta api sepanjang Jalan Slamet Riyadi oleh pemerintahan kolonial Belanda sebenarnya mengganggu laju budaya saat itu. Lokasi rel kereta api yang memotong garis lurus utara-selatan susunan bangunan Keraton, dari gapura Gladag hingga alun-alun kidul, secara simbolisme tidak sesuai dengan keutuhan simbolisasi bangunan keraton. Konstruksi dan susunan bangunan fisik Keraton Surakarta, mulai dari gapura Gladag, alun-alun lor,  bangsal Sri Manganti hingga gapura Gading adalah sarat makna dan simbol. Tiap bangunan fisik pada saat itu tidak hanya dibangun dengan dasar pertimbangan lokasi, namun juga pertimbangan budaya, utamanya simbol dan falsafah jawa. Hal tersebut tidak dimengerti oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan rel kereta api untuk tujuan transportasi Solo – Wonogiri tersebut merupakan wujud kepentingan ekonomi yang pada akhirnya mengganggu tatanan budaya yang sudah ada, karena ketidakselarasan pemikiran antara pemerintah kolonial yang berusaha membangun kota (ekonomi) dengan masyarakat yang sudah mempunyai nilai dan budaya lokal sendiri.

Menarik kesimpulan dari kondisi perkembangan sosial budaya di Kota Solo dari waktu ke waktu, maka sudah mampukah Kota Solo kedepan sebagai World Heritage Cities (WHC) atau malah lebih dominan bergeser menjadi World Trade Cities (WTC) ??

"Yen wis kliwat separo abad, jwa kongsi binabad "
Jika sudah lebih separuh abad, janganlah dihancurkan...
[ R.Ng. Ronggowarsito ]


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...