Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

Saturday, January 10, 2009

Situs Purbakala Majapahit Harus Direhabilitasi

 clipped from www.antara.co.id

09/01/09 19:59

Situs Purbakala Majapahit Harus Direhabilitasi



Yogyakarta (ANTARA News) - Pemerintah harus mengembalikan seperti semula atau merehabilitasi kondisi sejumlah situs purbakala di kawasan Museum Trowulan yang rusak akibat pembangunan proyek Majapahit Park atau Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Disamping itu pemerintah harus segera menjelaskan secara terbuka dan terinci tentang proyek Majapahit Park kepada publik, demikian seruan dari Forum Pelestarian Lingkungan Budaya Jogja (Forum Jogja) bersama delapan organisasi atau lembaga yang peduli terhadap pelestarian pusaka budaya di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Sekretaris Forum Jogja, Anggi Minarni, rusaknya situs Trowulan di Mojokerto sangat merugikan bangsa Indonesia dari segi kebudayaan dan jati diri.

"Oleh karena itu, Forum Jogja bersama delapan organisasi/lembaga yang peduli terhadap pelestarian peninggalan budaya menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar segera menghentikan pembangunan Majapahit Park demi pelestarian situs purbakala yang ada di Trowulan," katanya.

Ia mengatakan situs Trowulan merupakan situs yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta sejarah bangsa Indonesia. "Oleh karena itu, situs Trowulan harus dilestarikan melalui cara-cara yang benar sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian," katanya.

Terkait dengan keberadaan situs purbakala, kata dia, segala bentuk perusakan tidak dibenarkan, baik yang dilakukan individu atau perorangan maupun lembaga, apalagi pemerintah, sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, dan peraturan perundang-undangan yang mengikutinya.

"Sehubungan dengan hal itu, maka setiap pengembangan serta pengelolaan benda cagar budaya dan kawasan cagar budaya harus melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan (stakeholders) serta masyarakat sekitar," kata Anggi Minarni.

Menurut ensiklopedia, di Kecamatan Trowulan terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah dan makam peninggalan Kerajaan Majapahit.

Diduga kuat pusat kerajaan berada di wilayah itu, seperti ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan disebutkan pula dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15.

Trowulan adalah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kecamatan ini terletak di bagian barat Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Trowulan berada di jalur jalan nasional yang menghubungkan Surabaya - Solo (Jawa Tengah).

Sementara itu, perkembangan terakhir berbagai kalangan menilai pembangunan mega proyek Majapahit Park atau Pusat Informasi Majapahit di kawasan Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur telah merusak sejumlah situs purbakala seperti batu bata, sumur, gerabah, hingga pelataran rumah kuno.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik kepada wartawan di Jakarta, Minggu (4/1) lalu mengatakan telah memerintahkan penghentian sementara pembangunan Pusat Informasi Majapahit (Majapahit Park) untuk menghindari pro dan kontra, karena proyek tersebut merusak situs purbakala.

Ia mengakui ada kekeliruan dan kecerobohan dalam proses pekerjaan penggalian terkait pembangunan proyek senilai Rp25 miliar itu, sehingga merusak bagian-bagian situs purbakala yang ada.

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil dari tim evaluasi untuk dijadikan bahan yang akan dibahas bagi kelanjutan proyek tersebut.(*)
Sent with Clipmarks

Thursday, January 8, 2009

Taman Budaya Yogyakarta jendela Kota Jogja

 clipped from koranjogja.com

Jumat, 02 Januari 2009 09:52

Sebagai kota dengan julukan Kota Budaya, Jogja beruntung akhirnya memiliki sebuah gedung yang cukup representatif untuk pertunjukan budaya yang kini dikenal dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dengan menempati Gedung Societet Militer di belakang satu blok dengan Benteng Vredeburg dan Taman Pintar Jogja.

Pada awalnya TBY dibangun di lingkungan Kampus UGM di daerah Bulaksumur pada tanggal 11 Maret 1977. Kawasan itu merupakansebuah kompleks Pusat Pengembangan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nama Purna Budaya. Peresmian pembangunan kompleks seni budaya tersebut dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Wakil Presiden RI saat itu. Tujuannya adalan menjadi sarana dan prasarana untuk membina, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelumnya seniman Jogja masih juga berkiprah di Gedung Seni Sono yang berada di Kompleks Gedung Agung Jogja. Setelah Seni Sono dimasukkan dalam bagian Gedung Agung, praktis sejumlah kegiatan budaya berpindah ke Purna Budaya.

Pada tahun 1995 Rektor UGM dengan untuk kegiatan mahasiswa meminta kembali gedung yang dipakai sebagai Purna Budaya  melalui Mendikbud RI dalam surat No. UGM/422/PL/06/IV. Akhirnya, gedung seni budaya Taman Budaya Yogyakarta dikembangkan di kawasan cagar budaya Benteng Vredeburg atas kesepakatan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bappeda DIY, DPRD DIY, Walikota Jogja dan Dirjen Kebudayaan.

Beberapa tahun kemudian, berdasarkan Perda No. 7 tahun 2002 dan Keputusan Gubernur DIY No. 161/2002 tertanggal 4 November 2002, Purna Budaya (atau Taman Budaya Yogyakarta) menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY.

Taman Budaya Yogyakarta kemudian memulai babak baru dan menjadikannya sebagai "The Window of Yogyakarta". Situs seni budaya ini pun semakin meruncingkan misi dan visi dalam dunia seni rupa (biennale seni rupa), dunia media rekam (pemutaran film sepanjang tahun), dunia seni pertunjukan (festival teater, ketoprak, dalang, tari, dll), program-program pendidikan (bimbingan dan pelatihan seni untuk anak dan remaja), dan juga penerbitan (profil seniman budayawan, antologi sastra, kritik seni rupa, dll).

Proses pengumpulan data dan dokumentasi yang dilakukan oleh Taman Budaya Yogyakarta menjadi cukup penting dan strategis sebagai bahan diskusi dan kajian seni budaya seperti data potensi seni budaya, naskah cerita atau lakon, rekaman profil seniman atau budayawan, rekaman peristiwa seni budaya, serta berbagai koleksi karya seni rupa (lukis, grafis, patung, kriya seni, kerajinan). (Harian Jogja/APO)
Sent with Clipmarks

Benteng Vredeburg - Jogja

 clipped from koranjogja.com
Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg terletak diJalan Jenderal A. Yani 6, Jogja. Dulunya bangunan ini bernama Benteng Rustenburg  yang berarti Benteng Peristirahatan , dibangun oleh Belanda pada 1760 di atas tanah Keraton. Setelah direnovasi karena rusak akibat gempa pada 1867 namanya diganti menjadi Benteng Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian.

IST


Sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi. Pada  1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer Indonesia dan markas Bataliyon 403 Jogja. Pada 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987.

Benteng Vredeburg terdiri dari jembatan dan parit, pintu gerbang dan rumah jaga, gedung pengapit selatan dan pengapit utara, benteng yang mengelilingi bangunan dan anjungan, gedung-gedung dengan pola barak, gedung-gedung dengan pola gudang, gedung dengan pola tempat tinggal keluarga, gdung berpola hall. (ZUH)
Sent with Clipmarks

Keris tak semuanya mistis

 clipped from koranjogja.com

Minggu, 04 Januari 2009 10:07

Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.


Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.

HARIAN JOGJA/OLIVIA LEWI

Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. "Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan," paparnya, kepada Harian Jogja.
Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.

Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. "Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,"paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai "sikep" atau "piyandel", ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai "sengkalan" atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

"Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,"papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.

Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?
Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. "Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,"papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. "Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris," papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.

Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.
Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
"Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,"ungkapnya.

Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.
Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  "Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,"paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. "Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,"paparnya.

Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.

Sent with Clipmarks

Makna di balik siraman pusaka Keraton Jogja

 clipped from koranjogja.com

Minggu, 04 Januari 2009 10:46

Di setiap bulan Sura, Keraton Jogjaa menggelar jamasan pusaka sebagai wujud pembersihan ruh dan jiwa. Sebagian masyarakat meyakini air bekas jamasan mengandung banyak berkah yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, memperlancar rejeki, dan menyuburkan tanah pertanian

HARIAN JOGJA/TALCHAH HAMID

    Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pencerahan ruh sangatlah penting. Tak hanya menyangkut di jagad bawah (masyarakat), jagad atas (yang jumeneng) pun butuh mencerahkan ruh dirinya. Masyarakat Jawa yang sejatinya berakar dari akulturasi kebudayaan Hindu dan Islam, khususnya Kerajaan Mataram Islam selaku entitas tertinggi, mengaktualisasikan pembersihan ruh dalam jamasan pusaka, yang rutin digelar  saban Selasa Kliwon ataupun Jumat Kliwon di bulan Sura.

Bagi setiap manusia yang menjalani alur kehidupan, pencerahan ruh sangatlah penting. Tak hanya yang di jagad bawah.
Ritual membersihkan pusaka juga diikuti oleh masyarakat umum yang memiliki keris atau benda pusaka lainnya. Bulan Sura menjadi saat tepat untuk merawat pusaka.

    Dalam perkembangannya, menurut GBPH H Joyokusumo Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ritual yang mentradisi lewat tempaan waktu ini terus di uri-uri oleh empat entitas pewaris Kerajaan Mataram Islam, termasuk di dalamnya Kasultanan Ngayogjakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Pakualaman. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Keraton Jogja menggelar jamasan pusaka sebagai wujud pembersihan ruh dan jiwa. Berlangsung jamasan terhadap pusaka-pusaka Keraton Jogja yang meliputi: keris, tombak, pedang, dan kereta kencana.     
 
    Hari pertama jamasan, dilakukan secara tertutup oleh Ngarsa Dalem, sentono dan keluarga Keraton. Pusaka yang dijamas adalah: Tombak Kanjeng Kyai Ageng Pleret, Kanjeng Kyai Ageng Baru, Kanjeng Kyai Ageng Megatruh, Kanjeng Kyai Ageng Gondotapan dan Kanjeng Kyai Ageng Godowedana. Termasuk juga keris, yang meliputi:  Kanjeng Kyai Ageng Kopek, Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturut, Kanjeng Kyai Ageng Purbaniat, dan Kanjeng Kyai Ageng Toya Tinabang. Memasuki hari kedua, jamasan dilakukan oleh abdi dalem  Keraton, dengan Kanjeng Kyai Ageng Slamet, Kanjeng Kyai Ageng Duda, beserta seluruh tombak dan pedang Keraton, sebagai pusaka jamasan.

    "Bersamaan dengan jamasan hari pertama, digelar jamasan kereta kencana di Museum Kereta Kraton Rotowijayan. Bedanya, jamasan yang dilakukan oleh abdi dalem Keraton ini terbuka untuk umum," ujar Gusti Joyokusumo.

     Menariknya, jamasan terhadap kereta Kanjeng Nyai Jimat yakni kereta buatan Portugis pada tahun 1750 yang merupakan kereta pusaka tertua milik Keraton dan dipakai semasa pemerintahan Sultan HB I-III, dan kereta Keraton Rata Biru yang dipakai untuk kirab pernikahan putri Sultan HB X, GKR Pembayun, ini diluapi oleh ratusan orang yang ingin menyaksikan dan ngalap berkah air bekas jamasan.

    Diyakini, air bekas jamasan mengandung banyak berkah yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, memperlancar rejeki, dan menyuburkan tanah pertanian. Kuatnya keyakinan masyarakat inilah yang menyedot antusiasme masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan dan ngalap berkah air bekas jamasan.

    Di setiap jamasan terdapat sesaji yang dipergunakan sebagai uba rampe jamasan, sajen mempunyai makna dan arti mendalam. Sesaji tidak untuk dimakan, karena dimaksudkan untuk memberi makan pada pusaka-pusaka yang akan dijamas. Rangkaian sesaji yang terdiri dari: jajan pasar, nasi tumpeng plus gudangan, jenang baro-baro (rupa-rupa), kendi berisi air bunga, seekor ayam hidup, sebutir telur, ingkung ayam cemani dan ayam kampung, kemenyan, kloso bongko (tikar pandan), dan kembang setaman ini, mengandung makna-makna tersendiri.

    Jajan sepasar adalah simbol pengingat akan kehidupan dunia yang seperti saat ini. Sebagai manusia, kita seakan diingatkan agar mampu melihat kenyataan dunia dan tidak mudah larut sehingga penting bagi kita selalu ingat pada kehidupan akhirat.

     Untuk mencapai kehidupan akhirat yang diidamkan ini, manusia wajib melakukan penyucian dan pembersihan ruh dengan sesuatu yang suci dan harum. Dalam sesaji, alat penyuci disimbolkan dengan air bunga. Bagi sebagian besar masyarakat, bunga diidentikkan sebagai sesuatu yang harum dan suci.
  
    Mendalami makna sesaji, seakan melihat dan membaca kondisi spiritualitas manusia dalam konteks hubungannya dengan sang pencipta, begitu juga hubungannya dengan sesama manusia. Gambaran keseimbangan hubungan seorang pemimpin dengan pencipta dan sesamanya disimbolkan dengan kloso bongko, yang mengandung arti 'lungguhe ikhlas opo ora?' dalam hal ini, seorang pelungguh (pemimpin) harus ikhlas ketika menjadi  tumpuan kasih Alloh dan masyarakat. Berlandaskan keikhlasan inilah sesuatu yang diidamkan baik secara spiritual ataupun secara material, yang ditandai dengan keselarasan antara jagad bawah (masyarakat) dengan jagad atas (yang jumeneng) akan tercapai sehingga Negara yang tata, titi, tentrem akan terwujud. .    
Sent with Clipmarks

Ibunda PA IX dimakamkan di Girigondo

 clipped from koranjogja.com
Ibunda PA IX dimakamkan di Girigondo

Rabu, 07 Januari 2009 10:39

JOGJA: Ibunda Sri Paduka Pakualam IX yang juga Wakil Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kanjeng Bendoro Raden Ayu (KBRay) Purnamaningrum yang berpulang pada usia 90 tahun, dimakamkan di Kompleks Pemakaman Girigondo, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon,  Kulonprogo, Selasa (6/1). Almarhumah adalah istri kedua almarhum Sri Pakualam VIII.

Dalam prosesi pemakaman, kemarin, satu hal yang tidak dilaksanakan,  jenasah tidak diantar dengan kereta kuda ke pemakaman, melainkan dengan ambulans.

HARIAN JOGJA/TALCHAH HAMID

Almarhumah dimakamkan bersisian dengan istri pertama, KBRay Hj Retnaninggrum yang meninggal 3 Februari 2005 lalu, dengan jarak sekitar 1 meter di sisi Timur. Sementara Sri Pakualam VIII dimakamkan di tengah-tengah, berjarak sekitar 2 meter di Utara kedua istrinya.

Jenazah beserta rombongan tiba sekitar pukul 13.30, dan segera disemayamkan di masjid dekat makam, untuk disalatkan dengan imam Mas Rokanuddin (47 tahun),  yang menjabat Lurah Juru Kunci  makam. Turut sebagai imam, selain anggota keluarga dan kerabat adalah Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo, jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Kulonprogo, dan puluhan warga.

Tanpa banyak seremonial, setelah disalatkan, jenasah segera diangkat 15 abdi dalem makam, secara bergantian dengan anggota tentara, ke lokasi pemakaman berbukit yang terletak sekitar 50 meter ke atas dari masjid, menaiki sekitar 200 tangga.

Rokanudin menjelaskan pemakaman keluarga itu mulai ditempati pertama kali oleh Sri Pakualam V, pada tahun 1900-an. Kemudian berturut-turut sampai Pakualam VIII.

Rokanuddin mengatakan Sri Pakualam IX tidak tampak hadir dalam pemakaman itu. Dia menjelaskan ada kepercayaan bagi Pakualam yang sedang jumeneng berpantang mengunjungi makam itu, kecuali sudah waktunya alias wafat.

Tanpa kereta
Dalam prosesi pemakaman KBRAy Purnamaningrum, jenazah diantar ke peristirahatan terakhir menggunakan ambulans, tidak menggunakan kereta seperti tradisi Pura Pakualaman.

BRM Haryo Danardono, salah seorang cucu, menguraikan, biasanya jenasah keluarga diusung menggunakan kereta sampai Wirosaban, kemudian dipindah ke ambulans menuju pemakaman Girigondo, Kulonprogo. "Pemakaman kali ini tidak menggunakan prosesi itu," ujarnya.

Terakhir, kata dia, prosesi semacam itu dilaksanakan saat pemakaman Pakualam Alam VII. Karena tradisi ini bukan ajaran pokok yang harus dilaksanakan, seiring perkembangan zaman lalu digunakan ambulans supaya praktis.

"Meski pemakaman sudah tidak melibatkan peran kereta, namun satu tradisi Pakualaman yang tetap dipertahankan, jenazah dibawa menuju pemakaman tidak lewat gerbang depan, tetapi melalui pintu samping sebelah Barat," imbuhnya.

KBRay Purnamaningrum meninggalkan 8 anak. Putera pertama adalah KPH Ambarkusumo yang saat ini jumeneng sebagai KGPAA Paku Alam IX. Selanjutnya putra-putri almarhumah adalah BRAY Retnamartani Kusumonagoro, KPH Gondokusumo, BRAY Retno Suskamdani Noto Nagoro, BRAY Retna Rukmini Tirto Nagoro, KPH Condro Kusumo, BRAY Retno Widanarni Projo Nagoro dan KPH Indro Kusumo.

Almarhumah juga meninggalkan 27 cucu dan 11 cicit. Menurut BRM Haryo, almarhum memiliki cita-cita yang belum tercapai, melihat semua cucu menikah atau mentas. Saat ini masih ada 6 cucu yang belum melangsungkan pernikahan. "Beliau memang dekat dengan cucu, kedekatan ini terlihat dari cara beliau minta disapa budhe bukan eyang. Tetapi mau bagiamana lagi, itu kehendak Tuhan," tambahnya.

Sebelum diberangkatkan, sekitar pukul 12.35 WIB, anggota keluarga melakukan ritual brobosan. Ritual ini dilangsungkan di beranda kiri sebelah dalam Puro Pakualaman dan diikuti seluruh anggota keluarga. 

Seusai brobosan, sekitar pukul 01.00 WIB, jenazah diberangkatkan ke makam keluarga di Girigondo Kulonprogo. Pemakaman di atas bukit, kata Haryo, sesuai kebiasaan Jawa, bahwa orang istirahat itu duduk bersandar bukit dan menghadap laut.

Gangguan kesehatan
Dalam penjelasan saat menjelang meninggalnya sang ibunda, KPH Indro Kusumo, putra yang sehari-hari tinggal bersama almarhum, mengatakan tidak ada pertanda atau firasat sebelum meninggal. "Hanya kondisi jantung beliau menurut dokter keluarga memang mengalami sedikit gangguan," jelasnya.

Kronologis sebelum kematian, kata KPH Indro, Kusumo, dokter keluarga pada  Senin (5/1) memberitahu kondisi jantung KBRAy Purnamaningrum agak terganggu. Karena enggan dibawa ke rumah sakit, dokter lalu memberi obat dan berhasil membuat tenang.

Kondisi ini tidak berlangsung lama, sekitar 21.00 WIB, KBRay Purnamaningrum mengeluh tidak enak badan dan minta dipasang oksigen. Setelah pasang, kondisi istirahat tetap tidak tenang.

Melihat kondisi itu, Indro berinisiatif membawa ke rumah sakit sekitar pukul 21.30 WIB. Ketika itu, almarhumah sempat tawar-menawar rumah sakit yang dituju, sampai diputuskan untuk dirawat di RS Panti Rapih.

Datang di UGD pukul 22.00 WIB, almarhum langsung ditangani tim medis. Namun demikian pada pukul 02.15, almarhumah dipanggil yang Kuasa. "Setelah itu menunggu dua jam baru bisa dibawa pulang. Jenasah dimandikan di Pura, kemudian disemayamkan di balai," paparnya. Sebelum meninggal, wanita kelahiran 15 Juni 1918, di mata keluarga memiliki semangat hidup yang tinggi.

Beberapa pejabat yang hadir di rumah duka diantaranya, Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarga, Walikota Jogja Herry Zudianto, Kepala Dinas Perhubungan DIY Muladi Hadikusumo, serta sejumlah pejabat tingkat kabupaten/kota dan provinsi lainnya.
Sent with Clipmarks

Monday, December 15, 2008

Wednesday, December 10, 2008

Jogja Java Carnival 2008


Jogja Java Carnival 2008, originally uploaded by Agus Yuniarso.

Lokasi: Jalan Sultan Agung, Yogyakarta.

Monday, December 8, 2008

dadigareng sent you a playlist: "Taman Sari Jogjakarta"

YouTube - Broadcast Yourself help center | e-mail options | report spam

dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube.

This is awesome!
Taman Sari Jogjakarta
© 2008 YouTube, LLC

Saturday, August 30, 2008

Museum di Jawa Tengah

Museum Ronggowarsito
Museum yang terletak di Jl. Abdul Rahman Saleh ini merupakan museum terlengkap di Semarang yang memiliki koleksi mengenai sejarah, alam, arkeologi, kebudayaan, era pembangunan dan wawasan nusantara. Dengan nama yang diambil dari salah satu pujangga Indonesia yang terkenal dengan hasil karyanya dalam bidang filsafat dan kebudayaan, museum ini menempati luas tanah 1,8 ha. Museum ini dibuka setiap hari pukul 08.00-14.00 WIB kecuali hari Senin.

Museum Mandala Bakti
Sebagai museum perjuangan ABRI, museum ini menyimpan berbagai koleksi tentang data, sejarah dan dokumentasi, dan senjata-senjata baik tradisional maupun modern serta peralatan yang digunakan dalam perang saat mempertahankan kemerdekaan.

Museum Jamu Jago dan Muri
Meseum yang memiliki koleksi foto-foto, slide dan peralatan tradisional pembuatan jamu pada masa lalu ini berlokasi di Jl. Setiabudi no.179 Srondol Semarang. Museum ini didirikan oleh perusahaan Jamu Jago sebagai pusat informasi dan promosi hasil jamu. Sementara itu museum MURI mengoleksi catatan rekor maupun prestasi luar biasa yang dimiliki orang-orang Indonesia, tercatat 142 data mengenai orang-orang dengan keistimewaan seperti : terberat, pinggang teramping, rambut terpanjang, dan lain-lain. Disini pengunjung tidak dipungut biaya dan dibuka pada hari Senin – Jumat dari 08.00-16.00 WIB. Pengunjung akan dihibur dengan kesenian karawitan baik yang dilakukan oleh karyawan-karyawati ataupun orang-orang cebol.

Kereta Api Ambarawa
Museum Kereta Api berlokasi di kota Ambarawa Kab. Semarang, tepatnya dijalan yang menghubungkan Ambarawa dengan Magelang/Yogyakarta. Di Museum ini mempunyai 12 koleksi lokomotif kuno dari berbagai jenis, diantaranya buatan Belanda, Jerman dan Swiss. Wisatawan yang mengunjungi tempat ini dengan rombongan dapat menyewa kereta api yang berkapasitas 100 orang untuk mengikuti perjalanan wisata dari Ambarawa- Bedono pp berjarak 9,5 Km melalui rel bergerigi. Sepanjang perjalanan dengan berkereta api dapat dinikmati tanjakan dan kelokan dengan panorama alam yang mempesona berupa gunung, lembah, sawah dan danau.

Museum Diponegoro
Merupakan kamar petilasan Pangeran Diponegoro, terletak di sayap kin Pendopo Karesidenan Kedu yang dibangun tahun 1810, menyimpan peninggalan sejarah Pangeran Diponegoro yang ditangkap secara licik dalam suatu perundingan dengan Belanda. Saat mi di museum tersimpan benda-benda bernilai sejarah, antara lain:
meja kursi bekas tempat berunding yang salah satu lengan kursinya menyimpan bekas kemarahan beliau berupa guratan kuku, jubah berukuran tinggi 1,57 m, lebar 1,35 m terbuat dan kain shantung, kitab tahrib.


Museum Gula
Museum ini terletak di tepi jalan raya Yogyakarta dan Solo pada kilometer 4,5, tepatnya sebelah barat kota Klaten, Jawa Tengah. Pabrik ini dibangun tahun 1860 dengan menggunakan turbin penggerak air sebagai tenaga penggerak utama gilingan. Setelah James Watt menemukan mesin uap, maka penggerak utamanya diganti dengan mesin uap. Mesin uap tertua di PG Gondang ini adalah B.Lahaye & Brissoneant buatan Perancis tahun 1884, yang saat ini masih berfungsi dengan baik dan banyak menarik perhatian para turis asing. Fasilitas yang ditawarkan di tempat ini adalah tour keliling pabrik gula dengan naik lokomotif, melihat proses produksi gula (Mei - Agustus), melihat museum gula satu-satunya di Indonesia dan nomor sebelas di dunia. Di sini juga terdapat Coffee Shop dengan lokasi yang tenang dan nyaman untuk bersantai dengan keluarga, relasi dan melepas lelah, penuh inspiratif dengan sajian menu kopi dan lainnya. Anda juga dapat memanfaatkan gedung pertemuan yang cukup luas dan aman dengan kapasitas 800 kursi.

MUSEUM DAN MISTERI KUBAH SANGIRAN

Salah satu objek wisata yang menarik di Sragen adalah Museum Sangiran yang berada di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kubah tersebut terletak di Depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (kurang lebih 17 km dan kota Solo). Kehadiran Sangiran merupakan contoh gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil
manusia purba paling lengkap di Jawa. Luasnya mencapai 56 km2 yang meliputi 3 (tiga) kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, Plupuh) dan satu kecamatan di Karanganyar (Gondangrejo).
Sangiran merupakan situs terpenting untuk ilmu pengetahuan (terutama penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, palaeoanthropologi dan geologi), dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan. Situs Sangiran dapat dimanfaatkan dalam mempelajari kehidupan manusia pra-sejarah yang dilengkapi dengan fosil manusia, hasil hasil budaya manusia, fosil flora dan fauna beserta gambaran stratigrafinya. Sangiran memiliki sungai yang sangat indah yang disebut dengan Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo. Daerah inilah yang mengalami erosi tanah sehingga lapisan tanah yang terbentuk nampakjelas perbedaannya antara lapisan tanah satu dengan yang Iainnya. Dalam lapisan lapisan tanah inilah banyak ditemukan fosil- fosil manusia maupun binatang purba hingga saat in Situs purbakala Sangiran sampai saat mi masih banyak mengandung misteri yang semestinya diungkap.

Sampai saat ni sudah ditemukan 50 individu fosil Manusia Homo erectus. Jumlah mi mewakili 65% fosil Homo erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50 % populasi Homo erectus di dunia (Widianto : 1995) Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat mi berjumlah 13.809 buah. 2.934 disimpan di dalam Ruang Pameran dan 10.875 lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan.
Fosil manusia yarg ainnya disimpan di Museum Geologi Bandung dan di Laboratorium Palaeonthropologi Jogjakarta. Berdasarkan hasil temuannya Situs Sangiran merupakan Situs Prasejarah yang sangat penting untuk memahami tentang proses evolusi manusia dan merupakan situs terlengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hal tersebut Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia dengan No. 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke 20 tahun di Marida Meksiko.

Penelitian tentang manusia clan binatang purba diawali oleh seorang ahli Palaeonthologi Jerman yang bernama G. H. R. Von Koenigswald dan Jerman yang bekerja pada pemerintahan Belanda sebagai staf di Dinas Pertambangan di Bandung pada tahun 1930-an yang telah melatih masyarakata Sangiran mempelajari tentang fosil dan cara penanganannya secara profesional. Hasil penelitian dikumpulkan di rumah Kepala Desa Krikilan, Bpk. Totomarsono sampai th. 1975. Oleh karena begitu banyak wisatawan maka muncul ide untuk membangun sebuah Museum.

Pada awalnya Museum Sangiran dibangun diatas tanah seluas 1000 m2 yang terletak disamping Balai Desa Krikilan. Sebuah Museum yang representatif baru dibangun pada tahun 1980 karena semakin banyaknya temuan fosil yang dihasilkan dan sekaligus bertujuan untuk melayani wisatawan.

Bangunan tersebut seluas 16.675 m2 dengan ruangan museum seluas 750 m2. Bangunan tersebut bergaya Joglo yang terdiri atas Ruang Pameran, Aula, Laboratorium, Perpustakaan, Ruang Audio Visual (tempat pemutaran film kehidupan manusia praejarah), Gudang Penyimpanan, Musholla, Toilet, Kios Souvenir (khususnya handicraft yang berasal dan batu yang biasa disebut sebagai "Batu lndah Bertuah", sumber bahannya berasal dan Kali Cemoro) dan areal Parkir.
Pada tahun 1936 untuk pertama kalinya Von Koenigswald menemukan Mandibula(rahangbawah)Pithecantropus erectus,dan tahun 1937 menemukan cranium (tengkorak) ditepi Kali Cemoro.
Taxon Homo erectus dibagi dalam 4 (empat) species:
1. Meganthropuspalaeojavanicus;
2. Pithecanthropus mojokertensis;
3. Pithecanthropus erectus;
4. Pithecanthropus soloensis

Hal yang paling mengesankan dari Situs Sangiran kita bisa menemukan sen strafigrafis yang tidak terputus sejak Pliosen Akhir hingga akhir Plestosen Tengah sekitar 2 juta hingga 250.000 tahun yang lalu. (Widianto: 1995, 1).

Bagamana imsteri terjadinya Kubah Sangiran?
Pada awalnya Sangiran merupakan lautan dalam yang kemudian karena adanya tenaga Endogen (dan dalam bumi) terjadi pengangkatan dan pelipatan pada permukaan lapisan permukaan bumi. Dibuktikan dengan adanya Formasi Kalibeng ( 2 juta tahun yang lalu ), kemudian memunculkan rawa-rawa disusul oleh terbentuknya danau danau. Pada kala Glasial, permukaan air laut menyusut oleh adanya pembekuan es di kutub utara ) dan muncullah jembatan daratan sehingga terjadi migrasi manusia dan binatang dan arah benua Asia.
Kehidupan manusia prasejarah dimulai pada saat endapan danau di Sangiran terbentuk. Kita bisa mengamati hal ini pada Formasi Pucangan dan kemudian berlanjut sampai saat daratan sudah terbentuk. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya temuan fosil pada lapisan tersebut baik itu fosil manĂ¼sia maupun fosil dan binatang bertulang belakang dan menyusui.

Museum Kretek
Menurut hasil penelitian sejarah, yang menjadi pelopor susunan tembakau dan cengkeh dengan bungkus daun jagung kering yang kini dikenal dengan rokok kretek pertama seperti yang kita kenal sekarang adalah Haji Djamari dari Kudus. Sekitar tahun 1870 M. Rokok yang terbuat dari tembakau campur cengkeh dengan dibungkus daun jagung kering (kelobot) kemudian dikenal dengan nama rokok kretek, pada mulanya oleh Haji Djamari digunakan untuk menyembuhkan sakit batuk.

Museum RA Kartini

Terletak di pusat kota atu tepatnya di sebelah utara alun-alun kota Jepara. Museum RA Kartini termasuk jenis museum umum dan sekaligus sebagai obyek wisata sejarah yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jepara selaku Dinas Teknis yang ditunjuk oleh pemerintah daerah. Museum ini dibuka setiap hari dan sering dikunjungi para wisatawan baik wisata mancanegara (Wisman) maupun wisata .nusantara (Wisnus). Museum RA Kartini didirikan pada tanggal 30 Maret 1975 pada masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo, SH, sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 21 April 1977 oleh Bupati KDH Tingkat II Jepara, Soedikto, SH.

MUSEUM RADYO PUSTOKO

Museum ini dibangun pada tahun 1890 oleh Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV.. Museum ini menyimpan benda – benda kuno yang mempunyai nilai sejarah tinggi seperti keris, gamelan, arca, keramik dan lainnya. Disamping itu, museum ini juga mempunyai koleksi buku –buku kesusastraan dalam bahasa Jawa dan Belanda.

Museum Tosan Aji
Merupakan satu-satunya museum yang ada di Kabupaten Purworejo tempatnya sangat strategis karena berada di tengah Jantung Kota Purworejo tepatnya di sebelah selatan alun-alun besar Purworejo. Di museum ini tersimpan berbagai macam keris dan tombak yang berasal dan masa Majapahit hingga sekarang. Selain tombak dan lingga, di museum ini pengunjung juga mendapatkan informasi mengenai jenis keris serta bagaimana keris itu dibuat.

Setiap I Muharam atau I Syuro di tempat ini dilaksanakan jamasan atau pencucian senjata tajam dan pusaka yang dilakukan oleh tetua, dan ini tidak terbatas pada dimanfaatkan oleh masyarakat luas pencinta keris.
Museum Tosan Aji merupakan kebanggaan masyarakat Purworejo. Diharapkan dengan museum ini generasi muda lebih mencintai benda-benda pusaka yang ada di museum. Kolam Renang Artha Tirta Terletak di Kelurahan Baledono Kecamatan Purworejo, tempatnya strategis dan mudah dijangkau. Kolam Renang Artha Tirta adalah kolam renang umum dan satu-satunya di Punworejo. Kolam ini merupakan kolam renang dengan standar Internasional terdiri dan 2 bagian yaitu kolam untukanak-anak dan dewasa, dilengkapi dengan locker persewaan alat-alat seperti pelampung, pakaian renang dan kantin. Di lingkungan kolam renang ada tempat untuk hiburan (dangdut dan pagelaran musik) dan tempat lomba motor cross.

MUSEUM BATIK
Kata Batik berasal dari bahasa Jawa yang berakar dari "TIK" yang berarti "Kecil" dengan mendapat awalan Am Batik atau yang kemudian menjaadi "BATIK" dapat diartikan menulis (bahasa Jawa Nyerat) menggambar yang serba rumit.

Saturday, August 23, 2008

Karaton Jogjakarta

Iki nemu koleksi photo bab Karaton Jogja, sayange keterangan fotone kurang, dadi ya dikira-kira dhewe sik nggih.

Link

Tuesday, August 19, 2008

Sunday, July 27, 2008

JOGJA BANGKIT KEMBALI

Sejak bencana gempa bumi di Jogjakarta dan
sekitarnya yang terjadi tahun lalu, tepatnya 27 Mei 2006,ekonomi rakyat
dan bangunan tradisional yang bernilai sejarah masih banyak yang
terlantar dan belum mendapatkan bantuan perbaikan. Dengan latar
belakang tersebut, kami dan beberapa teman bekerjasama dengan Badan
Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) berinisiatif untuk mengadakan
gerakan pengumpulan dana bantuan (fundraising) bagi bangunan-bangunan
tradisional tua di Jogjakarta, terutama di kota tua Kotagede, serta
membangkitkan kembali Sentra-sentra kerajinan rakyat seperti Batik,
Perak, Kulit dan keramik. Upaya ini dihimpun dalam gerakan ”JOGJA BANGKIT KEMBALI (JBK)”.

Dengan tema ”MARI BERSAMA KITA SELAMATKAN ASET BUDAYA DAN EKONOMI RAKYAT YOGYAKARTA”, kami akan mengadakan beberapa kegiatan sehubungan dengan gerakan ini antara lain:



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...