Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts

Saturday, January 10, 2009

Situs Purbakala Majapahit Harus Direhabilitasi

 clipped from www.antara.co.id

09/01/09 19:59

Situs Purbakala Majapahit Harus Direhabilitasi



Yogyakarta (ANTARA News) - Pemerintah harus mengembalikan seperti semula atau merehabilitasi kondisi sejumlah situs purbakala di kawasan Museum Trowulan yang rusak akibat pembangunan proyek Majapahit Park atau Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Disamping itu pemerintah harus segera menjelaskan secara terbuka dan terinci tentang proyek Majapahit Park kepada publik, demikian seruan dari Forum Pelestarian Lingkungan Budaya Jogja (Forum Jogja) bersama delapan organisasi atau lembaga yang peduli terhadap pelestarian pusaka budaya di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Sekretaris Forum Jogja, Anggi Minarni, rusaknya situs Trowulan di Mojokerto sangat merugikan bangsa Indonesia dari segi kebudayaan dan jati diri.

"Oleh karena itu, Forum Jogja bersama delapan organisasi/lembaga yang peduli terhadap pelestarian peninggalan budaya menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar segera menghentikan pembangunan Majapahit Park demi pelestarian situs purbakala yang ada di Trowulan," katanya.

Ia mengatakan situs Trowulan merupakan situs yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta sejarah bangsa Indonesia. "Oleh karena itu, situs Trowulan harus dilestarikan melalui cara-cara yang benar sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian," katanya.

Terkait dengan keberadaan situs purbakala, kata dia, segala bentuk perusakan tidak dibenarkan, baik yang dilakukan individu atau perorangan maupun lembaga, apalagi pemerintah, sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya, dan peraturan perundang-undangan yang mengikutinya.

"Sehubungan dengan hal itu, maka setiap pengembangan serta pengelolaan benda cagar budaya dan kawasan cagar budaya harus melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan (stakeholders) serta masyarakat sekitar," kata Anggi Minarni.

Menurut ensiklopedia, di Kecamatan Trowulan terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah dan makam peninggalan Kerajaan Majapahit.

Diduga kuat pusat kerajaan berada di wilayah itu, seperti ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan disebutkan pula dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15.

Trowulan adalah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kecamatan ini terletak di bagian barat Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Trowulan berada di jalur jalan nasional yang menghubungkan Surabaya - Solo (Jawa Tengah).

Sementara itu, perkembangan terakhir berbagai kalangan menilai pembangunan mega proyek Majapahit Park atau Pusat Informasi Majapahit di kawasan Museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur telah merusak sejumlah situs purbakala seperti batu bata, sumur, gerabah, hingga pelataran rumah kuno.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik kepada wartawan di Jakarta, Minggu (4/1) lalu mengatakan telah memerintahkan penghentian sementara pembangunan Pusat Informasi Majapahit (Majapahit Park) untuk menghindari pro dan kontra, karena proyek tersebut merusak situs purbakala.

Ia mengakui ada kekeliruan dan kecerobohan dalam proses pekerjaan penggalian terkait pembangunan proyek senilai Rp25 miliar itu, sehingga merusak bagian-bagian situs purbakala yang ada.

Saat ini pihaknya masih menunggu hasil dari tim evaluasi untuk dijadikan bahan yang akan dibahas bagi kelanjutan proyek tersebut.(*)
Sent with Clipmarks

Thursday, January 8, 2009

Keris tak semuanya mistis

 clipped from koranjogja.com

Minggu, 04 Januari 2009 10:07

Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.


Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.

HARIAN JOGJA/OLIVIA LEWI

Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. "Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan," paparnya, kepada Harian Jogja.
Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.

Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. "Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,"paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai "sikep" atau "piyandel", ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai "sengkalan" atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

"Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,"papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.

Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?
Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. "Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,"papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. "Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris," papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.

Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.
Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
"Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,"ungkapnya.

Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.
Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  "Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,"paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. "Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,"paparnya.

Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.

Sent with Clipmarks

Makna di balik siraman pusaka Keraton Jogja

 clipped from koranjogja.com

Minggu, 04 Januari 2009 10:46

Di setiap bulan Sura, Keraton Jogjaa menggelar jamasan pusaka sebagai wujud pembersihan ruh dan jiwa. Sebagian masyarakat meyakini air bekas jamasan mengandung banyak berkah yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, memperlancar rejeki, dan menyuburkan tanah pertanian

HARIAN JOGJA/TALCHAH HAMID

    Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pencerahan ruh sangatlah penting. Tak hanya menyangkut di jagad bawah (masyarakat), jagad atas (yang jumeneng) pun butuh mencerahkan ruh dirinya. Masyarakat Jawa yang sejatinya berakar dari akulturasi kebudayaan Hindu dan Islam, khususnya Kerajaan Mataram Islam selaku entitas tertinggi, mengaktualisasikan pembersihan ruh dalam jamasan pusaka, yang rutin digelar  saban Selasa Kliwon ataupun Jumat Kliwon di bulan Sura.

Bagi setiap manusia yang menjalani alur kehidupan, pencerahan ruh sangatlah penting. Tak hanya yang di jagad bawah.
Ritual membersihkan pusaka juga diikuti oleh masyarakat umum yang memiliki keris atau benda pusaka lainnya. Bulan Sura menjadi saat tepat untuk merawat pusaka.

    Dalam perkembangannya, menurut GBPH H Joyokusumo Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ritual yang mentradisi lewat tempaan waktu ini terus di uri-uri oleh empat entitas pewaris Kerajaan Mataram Islam, termasuk di dalamnya Kasultanan Ngayogjakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Pakualaman. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Keraton Jogja menggelar jamasan pusaka sebagai wujud pembersihan ruh dan jiwa. Berlangsung jamasan terhadap pusaka-pusaka Keraton Jogja yang meliputi: keris, tombak, pedang, dan kereta kencana.     
 
    Hari pertama jamasan, dilakukan secara tertutup oleh Ngarsa Dalem, sentono dan keluarga Keraton. Pusaka yang dijamas adalah: Tombak Kanjeng Kyai Ageng Pleret, Kanjeng Kyai Ageng Baru, Kanjeng Kyai Ageng Megatruh, Kanjeng Kyai Ageng Gondotapan dan Kanjeng Kyai Ageng Godowedana. Termasuk juga keris, yang meliputi:  Kanjeng Kyai Ageng Kopek, Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturut, Kanjeng Kyai Ageng Purbaniat, dan Kanjeng Kyai Ageng Toya Tinabang. Memasuki hari kedua, jamasan dilakukan oleh abdi dalem  Keraton, dengan Kanjeng Kyai Ageng Slamet, Kanjeng Kyai Ageng Duda, beserta seluruh tombak dan pedang Keraton, sebagai pusaka jamasan.

    "Bersamaan dengan jamasan hari pertama, digelar jamasan kereta kencana di Museum Kereta Kraton Rotowijayan. Bedanya, jamasan yang dilakukan oleh abdi dalem Keraton ini terbuka untuk umum," ujar Gusti Joyokusumo.

     Menariknya, jamasan terhadap kereta Kanjeng Nyai Jimat yakni kereta buatan Portugis pada tahun 1750 yang merupakan kereta pusaka tertua milik Keraton dan dipakai semasa pemerintahan Sultan HB I-III, dan kereta Keraton Rata Biru yang dipakai untuk kirab pernikahan putri Sultan HB X, GKR Pembayun, ini diluapi oleh ratusan orang yang ingin menyaksikan dan ngalap berkah air bekas jamasan.

    Diyakini, air bekas jamasan mengandung banyak berkah yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, memperlancar rejeki, dan menyuburkan tanah pertanian. Kuatnya keyakinan masyarakat inilah yang menyedot antusiasme masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan dan ngalap berkah air bekas jamasan.

    Di setiap jamasan terdapat sesaji yang dipergunakan sebagai uba rampe jamasan, sajen mempunyai makna dan arti mendalam. Sesaji tidak untuk dimakan, karena dimaksudkan untuk memberi makan pada pusaka-pusaka yang akan dijamas. Rangkaian sesaji yang terdiri dari: jajan pasar, nasi tumpeng plus gudangan, jenang baro-baro (rupa-rupa), kendi berisi air bunga, seekor ayam hidup, sebutir telur, ingkung ayam cemani dan ayam kampung, kemenyan, kloso bongko (tikar pandan), dan kembang setaman ini, mengandung makna-makna tersendiri.

    Jajan sepasar adalah simbol pengingat akan kehidupan dunia yang seperti saat ini. Sebagai manusia, kita seakan diingatkan agar mampu melihat kenyataan dunia dan tidak mudah larut sehingga penting bagi kita selalu ingat pada kehidupan akhirat.

     Untuk mencapai kehidupan akhirat yang diidamkan ini, manusia wajib melakukan penyucian dan pembersihan ruh dengan sesuatu yang suci dan harum. Dalam sesaji, alat penyuci disimbolkan dengan air bunga. Bagi sebagian besar masyarakat, bunga diidentikkan sebagai sesuatu yang harum dan suci.
  
    Mendalami makna sesaji, seakan melihat dan membaca kondisi spiritualitas manusia dalam konteks hubungannya dengan sang pencipta, begitu juga hubungannya dengan sesama manusia. Gambaran keseimbangan hubungan seorang pemimpin dengan pencipta dan sesamanya disimbolkan dengan kloso bongko, yang mengandung arti 'lungguhe ikhlas opo ora?' dalam hal ini, seorang pelungguh (pemimpin) harus ikhlas ketika menjadi  tumpuan kasih Alloh dan masyarakat. Berlandaskan keikhlasan inilah sesuatu yang diidamkan baik secara spiritual ataupun secara material, yang ditandai dengan keselarasan antara jagad bawah (masyarakat) dengan jagad atas (yang jumeneng) akan tercapai sehingga Negara yang tata, titi, tentrem akan terwujud. .    
Sent with Clipmarks

Ibunda PA IX dimakamkan di Girigondo

 clipped from koranjogja.com
Ibunda PA IX dimakamkan di Girigondo

Rabu, 07 Januari 2009 10:39

JOGJA: Ibunda Sri Paduka Pakualam IX yang juga Wakil Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kanjeng Bendoro Raden Ayu (KBRay) Purnamaningrum yang berpulang pada usia 90 tahun, dimakamkan di Kompleks Pemakaman Girigondo, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon,  Kulonprogo, Selasa (6/1). Almarhumah adalah istri kedua almarhum Sri Pakualam VIII.

Dalam prosesi pemakaman, kemarin, satu hal yang tidak dilaksanakan,  jenasah tidak diantar dengan kereta kuda ke pemakaman, melainkan dengan ambulans.

HARIAN JOGJA/TALCHAH HAMID

Almarhumah dimakamkan bersisian dengan istri pertama, KBRay Hj Retnaninggrum yang meninggal 3 Februari 2005 lalu, dengan jarak sekitar 1 meter di sisi Timur. Sementara Sri Pakualam VIII dimakamkan di tengah-tengah, berjarak sekitar 2 meter di Utara kedua istrinya.

Jenazah beserta rombongan tiba sekitar pukul 13.30, dan segera disemayamkan di masjid dekat makam, untuk disalatkan dengan imam Mas Rokanuddin (47 tahun),  yang menjabat Lurah Juru Kunci  makam. Turut sebagai imam, selain anggota keluarga dan kerabat adalah Bupati Kulonprogo Toyo Santoso Dipo, jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Kulonprogo, dan puluhan warga.

Tanpa banyak seremonial, setelah disalatkan, jenasah segera diangkat 15 abdi dalem makam, secara bergantian dengan anggota tentara, ke lokasi pemakaman berbukit yang terletak sekitar 50 meter ke atas dari masjid, menaiki sekitar 200 tangga.

Rokanudin menjelaskan pemakaman keluarga itu mulai ditempati pertama kali oleh Sri Pakualam V, pada tahun 1900-an. Kemudian berturut-turut sampai Pakualam VIII.

Rokanuddin mengatakan Sri Pakualam IX tidak tampak hadir dalam pemakaman itu. Dia menjelaskan ada kepercayaan bagi Pakualam yang sedang jumeneng berpantang mengunjungi makam itu, kecuali sudah waktunya alias wafat.

Tanpa kereta
Dalam prosesi pemakaman KBRAy Purnamaningrum, jenazah diantar ke peristirahatan terakhir menggunakan ambulans, tidak menggunakan kereta seperti tradisi Pura Pakualaman.

BRM Haryo Danardono, salah seorang cucu, menguraikan, biasanya jenasah keluarga diusung menggunakan kereta sampai Wirosaban, kemudian dipindah ke ambulans menuju pemakaman Girigondo, Kulonprogo. "Pemakaman kali ini tidak menggunakan prosesi itu," ujarnya.

Terakhir, kata dia, prosesi semacam itu dilaksanakan saat pemakaman Pakualam Alam VII. Karena tradisi ini bukan ajaran pokok yang harus dilaksanakan, seiring perkembangan zaman lalu digunakan ambulans supaya praktis.

"Meski pemakaman sudah tidak melibatkan peran kereta, namun satu tradisi Pakualaman yang tetap dipertahankan, jenazah dibawa menuju pemakaman tidak lewat gerbang depan, tetapi melalui pintu samping sebelah Barat," imbuhnya.

KBRay Purnamaningrum meninggalkan 8 anak. Putera pertama adalah KPH Ambarkusumo yang saat ini jumeneng sebagai KGPAA Paku Alam IX. Selanjutnya putra-putri almarhumah adalah BRAY Retnamartani Kusumonagoro, KPH Gondokusumo, BRAY Retno Suskamdani Noto Nagoro, BRAY Retna Rukmini Tirto Nagoro, KPH Condro Kusumo, BRAY Retno Widanarni Projo Nagoro dan KPH Indro Kusumo.

Almarhumah juga meninggalkan 27 cucu dan 11 cicit. Menurut BRM Haryo, almarhum memiliki cita-cita yang belum tercapai, melihat semua cucu menikah atau mentas. Saat ini masih ada 6 cucu yang belum melangsungkan pernikahan. "Beliau memang dekat dengan cucu, kedekatan ini terlihat dari cara beliau minta disapa budhe bukan eyang. Tetapi mau bagiamana lagi, itu kehendak Tuhan," tambahnya.

Sebelum diberangkatkan, sekitar pukul 12.35 WIB, anggota keluarga melakukan ritual brobosan. Ritual ini dilangsungkan di beranda kiri sebelah dalam Puro Pakualaman dan diikuti seluruh anggota keluarga. 

Seusai brobosan, sekitar pukul 01.00 WIB, jenazah diberangkatkan ke makam keluarga di Girigondo Kulonprogo. Pemakaman di atas bukit, kata Haryo, sesuai kebiasaan Jawa, bahwa orang istirahat itu duduk bersandar bukit dan menghadap laut.

Gangguan kesehatan
Dalam penjelasan saat menjelang meninggalnya sang ibunda, KPH Indro Kusumo, putra yang sehari-hari tinggal bersama almarhum, mengatakan tidak ada pertanda atau firasat sebelum meninggal. "Hanya kondisi jantung beliau menurut dokter keluarga memang mengalami sedikit gangguan," jelasnya.

Kronologis sebelum kematian, kata KPH Indro, Kusumo, dokter keluarga pada  Senin (5/1) memberitahu kondisi jantung KBRAy Purnamaningrum agak terganggu. Karena enggan dibawa ke rumah sakit, dokter lalu memberi obat dan berhasil membuat tenang.

Kondisi ini tidak berlangsung lama, sekitar 21.00 WIB, KBRay Purnamaningrum mengeluh tidak enak badan dan minta dipasang oksigen. Setelah pasang, kondisi istirahat tetap tidak tenang.

Melihat kondisi itu, Indro berinisiatif membawa ke rumah sakit sekitar pukul 21.30 WIB. Ketika itu, almarhumah sempat tawar-menawar rumah sakit yang dituju, sampai diputuskan untuk dirawat di RS Panti Rapih.

Datang di UGD pukul 22.00 WIB, almarhum langsung ditangani tim medis. Namun demikian pada pukul 02.15, almarhumah dipanggil yang Kuasa. "Setelah itu menunggu dua jam baru bisa dibawa pulang. Jenasah dimandikan di Pura, kemudian disemayamkan di balai," paparnya. Sebelum meninggal, wanita kelahiran 15 Juni 1918, di mata keluarga memiliki semangat hidup yang tinggi.

Beberapa pejabat yang hadir di rumah duka diantaranya, Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta keluarga, Walikota Jogja Herry Zudianto, Kepala Dinas Perhubungan DIY Muladi Hadikusumo, serta sejumlah pejabat tingkat kabupaten/kota dan provinsi lainnya.
Sent with Clipmarks

Pemasangan Batu Kemuncak Tandai Purnapugar Candi Nandi

 clipped from www.antara.co.id

06/01/09 20:17


Pemasangan Batu Kemuncak Tandai Purnapugar Candi Nandi


Yogyakarta  (ANTARA News) - Pemasangan Batu Kemuncak menandai peresmian purnapugar rehabilitasi Candi Nandi di kawasan kompleks Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang yang letaknya di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa.

Kegiatan pemasangan batu kemuncak di puncak Candi Nandi tersebut dilakukan oleh Direktur Purbakakala Ditjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar,Soerono dan Sesmenko Kesra Indroyono Soesilo, Dirut PT.Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (PT TWCBPRB) Poernomo dan Asisten Kesra Pemprov DIY, Bambang Raharjo.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Menko Kesra, Indroyono Soesilo, secara simbolis menyerahkan bantuan dana hibah spesifik dari dana APBD 2009 sebesar Rp7,5 miliar kepada Asisten Kesra pemprov DIY, Bambang Raharjo.

Dana hibah itu rencananya akan digunakan untuk rehabilitasi bangunan candi di Kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu, serta Bangsal Trajumas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Indroyono Soesilo mengatakan bahwa bantuan dana hibah tersebutmerupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kerusakan sejumlah situs purbakala yang ada di DIY, diantaranya Candi Prambanan sebagai akibat terjadinya gempa bumi Mei 2006.

Jadi, ia mengemukakan, sudah sewajarnya jika pemerintah dan bangsa Indonesia melestarikan dan memilihara bangunan peninggalan purblkala itu sebagai bentuk tanggujungjawab bangsa ini, apalagi sejak tahun 1992 UNESCO menetapkan bangunnan Candi Prambanan sebagai Warisan Budaya Dunia.

Konsekuensi penertapan oleh UNESCO itu, menurut dia, maka bangsa Indonesia harus memilihara dan meklestarikan bangunan peninggalan purbakala tersebut dari ancaman kerusakan dengan menentukan zonasi bangunan.

"Diharapkan dengan purnapugar Candi Nandi maka jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata budaya ini makin banyak daritahun ke tahun," kata Indroyono Soesilo menambahkan. (*)
Sent with Clipmarks

Friday, January 2, 2009

KEDIRI, 1/1 - TAHUN BARU.

KEDIRI, 1/1 - TAHUN BARU.

Sejumlah pendaki berada
di puncak tertinggi Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur, Kamis (1/1).
Mereka melakukan perayaan tahun baru 2009 di gunung setinggi 1731 mdpl
tersebut. FOTO ANTARA/Arief Priyono/nz/09.


Sunday, December 28, 2008

Pertunjukan Wayang Suket, Bukan Sekadar Karya Seni Rupa

Kpergelaran.jpgarya-karya wayang suket yang dibuat M.Thalib Prasojo, ternyata tidak hanya berhenti sebagai karya seni rupa. Untuk kali
pertama, karya seni rupa wayang suket (rumputan) itu pernah
dipergelarkan dalam bentuk seni pertunjukan wayang. Ki Supriyono (34),
ketua jurusan Pedalangan SMKN IX Surabaya bertindak menjadi dalang
dalam pementasan di gedung SMKN IX (eks SMKI), Jalan Siwalan Kerto
Surabaya, Kamis, 31 Mei 2007, pukul 19.00. Pentas wayang
gaya Jawa Timuran ini diiringi 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap, dengan lakon Wahyu Senopati.

Meski
pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono,
wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan
bahan-bahan rumput untuk sosok (yang menyerupai) wayang, namun
betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat
sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.


Selain
itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib
dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya
secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang
kulit biasanya, bukan ”wayang-wayangan”. Lakonnya pun dipilih lakon
serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang Slamet Gundono.
edit1.jpg


Selama
ini M. Thalib Prasojo membuat karya wayang suket sebagai salah satu
bentuk ekspresi dalam karya seni rupanya. Untuk pementasan kali ini,
sudah didahului dengan workshop pembuatan wayang suket pada siswa-siswa
SMKN XI (eks SMSR). Hasil karya workshop ini kemudian ikut disertakan
dalam pementasan wayang di SMKN IX. Sebagaimana diketahui, SMSR semula
merupakan bagian atau jurusan seni rupa dari SMKI. Maka kolaborasi
kedua sekolah ini untuk mengenang kebersatuan mereka, sekaligus menarik
minat anak-anak muda terhadap studi kesenian, khususnya jurusan
pedalangan yang selama ini sangat sepi peminat. Pergelaran selama 90
menit dengan penata gending Bambang SP ini menjadi bagian dari pentas
rutin dua bulanan yang dilakukan di SMKN IX.


Dalang
asli Nganjuk itu menuturkan, lakon Wahyu Senapati berkisah seputar
peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto.
Tapi
Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya
hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata,
Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa
terpecah.


Ketika
menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga,
disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan
Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu,
bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri. Menurutnya, yang sanggup
mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini
Permoni dipaksa keluar oleh Semar.
Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi
Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri
kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai
bentengnya.


Menurut Supriyono, cerita carangan yang dipergelarkan kali ini mengandung misi pendidikan. Bahwa
sesama saudara jangan saling bertengkar, atau dapat dikonotasikan
dengan rebutan kursi. Gatutkaca udah dipilih oleh rakyat, jadi kalau
Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus
menjadi Senopati.


Direncanakan,
setelah pentas ujicoba ini akan digelar lagi di gedung pertunjukan
kesenian di tempat lain. Tentu saja, M. Talib dengan senang hati kalau
ada yang mengundang pementasan wayang suketnya. (hn)

--------------------------------------------------

Biografi dan Informasi
Munthalib (M. Thalib) Prasojo.
Sketser, Pelukis, Pematung, Pemahat, Pemangku Budaya Jawa.

Lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931.

Alamat: Jl. Taman Erlangga V-16 Celep – Sidoarjo – Jawa Timur.
Telp. 031-8953363 – 0816.1518.4318.
Email: thalibprasodjo(at)yahoo.com.
Cc: henrinurcahyo(at)yahoo.com

Kisah Pak Gepuk, “Sang Maestro” Wayang Suket

Wayang Suket itu sebetulnya dolanan anak-anak ini di desa. Ketika kerbau, sapi atau kambing sibuk makan rumput, bocah angon (anak gembala) mencoba menirukan para dalang yang memainkan wayang. Jadilah, rumput-rumput di sekitarnya dimanfaatkan untuk dijadikan model wayang, layaknya seorang dalang.
Ini merupakan sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan seseorang membuat wayang suket. Hal ini dikarenakan bapak maupun simbahnya seorang petani yang tiap hari ke sawah.

Suket di sawah tidak sengaja dimainkan, ketika petani tengah santai lalu main suket. Dijadikan sebuah bentuk, lalu diletakkan begitu saja. Dibuang bubar. Tak dimainkandalam pentas sesungguhnya.Pengertian wayang itu kan oleh seniman. Pengertian wayangsuket pada awalnya,. tidak dengan sendirinya dimainkan. Tapi, pengertian bawah sadar tentang suket di masa kecil itu kansangat kuat dan sama sekali tidak berpikir bahwa, suket akan menjadi tren wayang suket.

Kenapa dinamakan wayang suket, karena wayang yang dimainkan terbuat dari rumput atau dalam bahasa Jawa disebut suket. Rumput memang dengan mudah bisa ditemukan dimana saja. Tetapi biasanya rumput yang dirangkai dan dijadikan wayang adalah rumput teki, rumput gajah, atau mendong, alang-alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Kesemuanya memiliki tekstur kuat dan bentuk yang panjang-panjang. Wayang suket tak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya tokoh dalam wayang kulit atau golek. Sekilas rumput-rumput tersebut memang dibentuk laksana wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun untuk membedakan tokoh yang satu dengan lainnya sangat sulit.

Sebab bentuknya yang hampir serupa. Pementasan wayang suket berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya. Dan Slamet Gundonolah adalah pencetus pementasan wayang suket dan cukup terkenal tidak hanya di nusantara tetapi sudah sampai ke Jepang dan Amerika, bahkan ke Eropa. Pementasan ini mulai dirintis oleh Ki Dalang Slamet Gundono 1999.

Akan tetapi dibalik kesuksesan Gundono, ternyata ada seorang “maestro” yang tidak dikenal yang sebenarnya telah merintis pembuatan wayang suket. Sayang, wayang-wayang suket karyanya tidak pernah dipentaskan dan hanya dipamerkan.

Siapakah dia? Pak Gepuk namanya. Nama Pak Gepuk mulai mencuat ketika hasil karyanya dipamerkan di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta 1-8 September 1995 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia Belanda Karta Pustaka dan Bentara Budaya Yogyakarta. Dari situlah pamor wayang suket mulai diperhitungkan dalam kancah perwayangan Indonesia.

Setelah Pak Gepuk hilang dari peredaran dunia perwayangan sampai akhir hayatnya, tiba-tiba di Tahun 2007 kembali muncul ketika banyak seniman-seniman Yogya menanyakan keberadaan Pak Gepuk. Hal ini terungkap ketika Museum Prof. Dr. Soegarda Purbalingga mengadakan pameran di Beteng Vredenberg Yogya dan menampilkan wayang suket karya Pak Gepuk. Banyak sekali pertanyaan, kesan dan tanggapan yang begitu simpatik yang ditujukan kepada Pak Gepuk “Sang Maestro yang tidak terkenal”. Demikian julukan dari salah seorang seniman senior Yogyakarta dan mereka tidak menyangka bahwa Pak Gepuk sudah tiada. Berkaitan dengan itulah penulis tergugah hatinya untuk untuk mencari informasi siapakah Pak Gepuk ini? Mengapa di luar Purbalingga khususnya di pusat-pusat kesenian namanya begitu terkenal, tetapi di Purbalingga sendiri banyak yang tidak tahu, termasuk penulis. Dan akhirnya penulis menemukan tulisan mengenai Pak Gepuk dalam sebuah artikel yang dimuat dalam buku Cikar Bobrok karya Sindhunata dan pernah diterbitkan oleh sebuah koran nasioanl. \

Inilah kisahnya:
Ladang itu bernama Sawah Gunung, letaknya kuramg lebih lima kilometer dari Dusun Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. Di sana jagung sedang menghijau..Suasana sunyi sekali.Di ladang inilah Pak Gepuk melewatkan hari-harinya. Siang ia mencangkul dan mengolahnya. Di gubug reyot itutak ada dipan, apalagi kasur. Yang terlihat hanyalah daun-daun pisang kering (klaras).
Klaras itulah kasur buat Pak Gepuk. Kini Pak Gepuk sudah berusia 87 tahun (sekarang 97 tahun). Badannya sudah kelihatan renta, namun masih kuat dan giat mencangkul ladangya. Siang hari ia mendapat kiriman makanan dari anak perempuannya berupa nasi, sebungkus sayur dan tempe tahu.

Pak Gepuk suka bermalam di gubugnya dan jarang pulang ke rumahnya. Paling-paling-paling seminggu sekali. Pak Gepuk enggan pulang ke rumah, bukan hanya karena jalannya yang sudah mulai repot dan susah. Ia memang suka menyendiri dan menyepi dalam kesunyian sejak masa mudanya. Pernah ia tinggal di gubugnya 40 hari 40 malam tanpa pulang sekalipun.

Kesunyian itulah yang mewarnai dan melingkupi hidup Pak Gepuk. Kesunyian itu memberinya kekuatan agar ia tabah mengolah tanahnya. Kesunyian itu memberinya pengetahuan bahwa alam ini adalah guru bagi kehidupannya. Kesunyian itu mengajarinya bahwa keindahan itu ada dimana-mana, bahkan di dalam rumput.. Karena itu, di tangan Pak Gepuk rumput-rumput itu bisa dianyam menjadi karya seni berupa wayang.

Pak Gepuk itu petani sekaligus seniman. Pada dirinya hidup bertani dan hidup berseni itu adalah hal yang tak terpisahkan. Tanah, tempat ia mencangkul dan meneteskan keringatnya, adalah tanah tempat ia memperoleh rasa seni dan bahan keindahan. Tanah itu memberinya jagung dan ketela untuk dimakan dan menyambung hidup. Tanah itu juga memberinya rumput untuk berkesenian dan mengungkapkan keindahan.

Tak ada orang mengajarinya bagaimana ia bertani. Sebagai anak petani, kemampuan bertani itu datang dengan sendirinya. Demikian pula ikhwal “keseniannya”. Waktu itu PakGepuk masih berusia lima belas tahun. Sehari-hari ia menjadi bocah angon..

Padang rumput adalah dunia Pak Gepuk. Dengan rumput-rumput itulah kambing-kambingnya mengenyangkan diri. Bukan hanya kambing, kehidupan manusia pun tergantuing pada rumput. Bagimana ia dapat hidup sebagai bocah angon jika tiada rerumputan.

Tiba-tiba ia merasa, dalam rerumputan, tanaman alam yang sederhana, itu terkandung kehidupan. Rumput, yang gunanya hanya untuk pengenyang binatang dan diinjak-injak manusia ternyata mengandung makna yang dalam. Pak Gepuk merenungi kekayaan rumput itu. Ia mencoba masuk ke dalam alam kesunyian rumput-rumput itu, kemudian muncullah keinginan dari benaknya, mungkinkah ia membuat wayang dari rumput?

Adi Purwanto, SS.,M.Si.
Pengelola Museum Budaya
Prof.Dr.R.Soegarda Poerbakawatja Purbalingga







source : http://www.matabumi.com

Wayang Suket @ Wordpress

Biografi dan Informasi
Munthalib (M. Thalib) Prasojo.
Sketser, Pelukis, Pematung, Pemahat, Pemangku Budaya Jawa.

Lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931.

Alamat: Jl. Taman Erlangga V-16 Celep – Sidoarjo – Jawa Timur.
Telp. 031-8953363 – 0816.1518.4318.
Email: thalibprasodjo(at)yahoo.com.
Cc: henrinurcahyo(at)yahoo.com

edit1.jpgaa.jpg

Kelekatannya dengan dunia wayang justru lebih pada sisi seni rupanya. Ketika bersekolah guru, Thalib remaja sudah punya pekerjaan sampingan yaitu menjual wayang kardus Punakawan. Dia gambar sendiri dengan menjiplak gambar wayang yang sudah ada, kemudian temannya yang menggunting. Kemudian diberi warna dengan sumba bercampur kanji, lantas dititipkan di warung-warung, seminggu kemudian didatangi lagi. Kalau ada yang berkurang, segera diganti dengan wayang yang baru.

Bagi Thalib, wayang adalah karya seni rupa yang unik. Kalau hendak membuat wayang, langkah pertama digambar dulu garis tepinya sampai membentuk suatu figur yang diinginkan. Kemudian digunting, lalu dipahat dan terakhir baru diberi aksen garis dan diwarnai. Proses seperti ini aneh, karena pewarnaan justru dilakukan paling akhir. Bandingkan dengan lukisan, tahapan yang terakhir adalah pemasangan pigura.

Wayang, katanya, telah mengingatkan betapa hidup ini sangat dipengaruhi oleh garis, baik garis yang nampak maupun garis yang tak nampak. Semisal garis khatulistiwa, garis zodiac, garis nasib, garis kodrat dan lain sebagainya. Wayang adalah bentuk sosok yang mengalami distilasi dan deformasi, yang kalau diamati sekilas menjadi sebuah komposisi yang aneh, antara kepala, bokong (pinggul), dan tangan yang panjangnya hampir menyentuh telapak kaki. Dan kaki itu sendiri digambarkan nampak kelima jarinya meski digambar dari posisi samping. Meski demikian, ada sesuatu yang sangat impesif pada sosok wayang, yaitu “pantes”.

Ketika kemudian dia menenuki pembuatan Wayang Rumput, “saya ingin mengabadikan media yang belum tersentuh. Perkara kemudian ada yang meniru, berarti saya bisa memberikan makan orang lain, “ ujarnya. Dan memang, belakangan memang ada seniman asal Sidoarjo yang bermukim di luar negeri, kemana-mana selalu memperkenalkan wayang rumput setelah terangsang ikut workshop yang diberikan Thalib.

Diakuinya, bahwa wayang rumput memang bukan ciptaannya. Itu mainan anak-anak kecil di desa pada suatu masa, yang sekarang nampaknya memang sudah punah. Budaya pedesaan di Jawa memang akrab dengan dunia wayang. Bukan hanya rumput atau jerami, anak-anak desa ada yang membuat wayang-wayangan dari daun nangka, pelepah pohon bambu, dan kemudian seiring dengan perkembangan jaman beralih ke bahan karton. Wayang karton inilah yang lebih populer dijajakan di kampung-kampung sebagai mainan anak-anak hingga sekarang.

Maka Thalib Prasojo, mencoba mengembalikan kenangan lama perihal wayang rumput ini. Bukan sekadar nostalgia, namun ada makna filosofis yang melekat di dalamnya. Karena rumput adalah simbol rakyat jelata, yang tahan terhadap berbagai goncangan, bahkan lautan rumput yang terbakar habis sekalipun masih selalu saja bangkit dengan tunas-tunas barunya. Rumput-rumput muda yang ranum itupun menjadi makanan lezat bagi mamalia. Berulangkali rumput diinjak, dilindas dan dimusnahkan, namun selalu saja tumbuh kembali. Grass root society, masyarakat akar rumput, adalah sebutan bagi golongan rakyat jelata.

Rumput adalah tumbuhan yang selalu mengalah namun seringkali dikalahkan oleh manusia. Meski tumbuh menyeruak sebagai gulma, rumput tak pernah membunuh tumbuhan induknya. Selama ada lahan tersisa, selama ada sinar matahari, rumput selalu hadir di situ. Angin kencang sekuat apapun, tak akan mampu menjebol rumput dari habitatnya. Namun menghadapi angin yang semilir, selaksa rumput bagaikan berzikir dengan khusuknya. Rumput-rumput bergoyang ke kiri, kembali lagi ke kanan, bergerak ke kiri lagi, balik ke kanan lagi. Persis seperti gerakan zikir. Maka salahkah ketika seorang Ebiet G. Ade mengajak kita bertanya pada ”rumput yang bergoyang…..?” Namun bisa jadi, rumput yang bergoyang kanan kiri itu menunjukkan jawaban ”tidak tahu” alias selalu menggeleng setiap kali ditanya apa saja. (*)

Monday, December 15, 2008

MP3 - Keroncong

MP3 - Karawitan Jawa

Source : Prabu.Wordpress.com

Friday, December 5, 2008

Masih adakah "SEMAR" dalam lingkaran Elite Kekuasaan?


Link

Para penggemar pakeliran wayang purwa, pasti sudah tidak asing lagi dengan tokoh Semar. Bersama ketiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, Semar seringkali hadir ketika dunia pakeliran mencapai tahap “gara-gara” alias klimaks yang menandai kacaunya situasi kehidupan di mayapada. Melalui karakternya yang khas dan tersamar, Semar mewakili basis kehidupan “wong cilik” yang seringkali tertindas dan menjadi korban pertarungan kaum elite yang tengah berebut kekuasaan.

Namun, Semar yang tampak adalah wadag kasar Janggan Semarasanta. Semar yang sesungguhnya adalah putra Sang Hyang Wisesa yang diberi anugerah mustika manik astagina yang mempunyai delapan daya (tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak pernah kedinginan). Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun alias kuncung. Semar atau Ismaya juga memiliki beberapa gelar sekaligus, yakni Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, atau Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri (alam kosong) dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia.

Siapakah Janggan Semarasanta itu? Dalam jagad pakeliran, dia adalah anak sulung Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan yang berperawakan cebol, ipel-ipel, dan berkulit hitam. Sedangkan, Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan merupakan salah satu keturunan Batara Semar, hasil pernikahannya dengan Dewi Sanggani, putri Sanghyang Hening. Karena tidak diperkenankan menguasai kehidupan manusia di mayapada, Batara Ismaya menitis ke wadag Janggan Semarasanta yang akhirnya menjadi abdi setia di Pertapaan Saptaarga.

Kisahnya bermula ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau. Dia lari sampai ke Saptaarga hingga akhirnya ditolong oleh Resi Kanumanasa. Oleh Sang Resi, kedua harimau tersebut diruwat dan berubahlah menjadi bidadari yang molek. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta, sedangkan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itulah Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarasanta.

Semar

1. Petruk 2. Gareng 3. Bagong

Sebagai pamong atau abdi, Janggan Semarasanta dikenal sangat setia kepada bendara alias Tuan-nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan, sehingga hanya para resi, pendeta, atau ksatria yang mampu menjalani laku prihatin dan kuat diemong oleh Janggan Semarasanta. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat diemong oleh Janggan Semarasanta, yakni Resi Manumanasa sampai enam keturunannya; Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata, dan Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan roh eyangnya; Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta hanyalah seorang manusia cebol jelek dan hitam. Namun, sesungguhnya dia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
***

Lantas, apa hubungan antara Semar dan konteks kekuasaan kontemporer saat ini? Secara langsung tidak ada memang, apalagi Semar hanyalah sebatas tokoh dalam mitos pewayangan yang tidak memiliki urgensi dalam lingkaran elite kekuasaan. Meski demikian, karakter tokoh Semar agaknya masih amat relevan jika dikaitkan dengan pola-pola kepemimpinan dalam lingkaran elite kekuasaan kontemporer saat ini. Pertanyaan menggoda yang layak dijawab adalah masih adakah “Semar” dalam lingkaran elite kekuasaan?

Yups, sebagai simbol kearifan, terutama dalam dunia wayang, Semar merupakan dewa yang menyamar sebagai kawula alit (orang kecil) untuk mengembalikan perdamaian ketika negara dalam keadaan genting. Semar bisa jadi merupakan tokoh yang menyimpan sumber kepemimpinan kharismatik sekaligus juga rasional. Ia dikenal ahli dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial yang terbukti telah mampu meredam gejolak dan kemelut yang meruyak di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dia dikenal konsisten dalam bersikap, tegas mengambil keputusan, dan tak pandang bulu dalam memberikan sanksi hukum kepada siapa pun yang nyata-nyata terbukti melawan hukum.

Yang mengagumkan, Semar dikenal tidak banyak cakap dan tidak suka menjual janji-janji menggiurkan kepada rakyatnya. Dia lebih suka mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapan rakyat. Selain itu, ia juga menyimpan kekuatan fisik yang dikenal dalam idiom Jawa sebagai kadigdayaan dan kekuatan supranatural yang luar biasa (Abdul Munir Mulkhan, 2001).

Segala kelebihan dalam diri Semar itu baru bisa digunakan ketika penindasan dan ketidakadilan kian merajalela. Dia tidak muncul setiap saat. Semar butuh momen yang tepat, yakni ketika kondisi sosial-politik mengalami chaos dan kekacauan. Dia akan muncul secara tiba-tiba. Kemelut akan segera berakhir ketika Semar mengoperasikan kedigdayaan-nya, sehingga memengaruhi keputusan pemerintahan dan kekuasaan para dewata.

Semar memang hanya ada dalam dunia mitologi. Meski demikian, tak ada salahnya jika mitos itu menjadi sebuah kesadaran budaya dan politik sebagai referensi seluruh dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Semar identik dengan kepintaran, kecerdikan, kesempurnaan, kebijakan, dan sifat terpuji lainnya. Nah, lantas memang masih adakah “Semar” dalam konteks lingkaran elite kekuasaan di negeri ini?

Pertanyaan semacam itu agaknya tidak mudah untuk dijawab. Realitas sosial-politik di negeri ini, diakui atau tidak, seringkali membuat kita sesak napas. Dalam kondisi masyarakat kita yang paternalistis, rakyat akan dengan mudah menyaksikan bagaimana kaum elite yang berada dalam lingkaran kekuasaan itu mengelola dan mengendalikan negara. Secara jujur juga mesti diakui, kaum elite kita belum sepenuhnya mampu membebaskan diri dari godaan kanan-kiri yang “memaksa” mereka terlibat dalam permainan busuk, korup, hasrat menguasai orang lain, sikap memperkaya diri sendiri, benci terhadap kelompok lain, rakus kekuasaan, mencuri harta rakyat, dan sederet sikap tak terpuji lainnya.

Kita selalu ingat betapa mereka sangat cerdas dalam membangun opini publik ketika berkampanye. Taburan retorika dan kata-kata manis meluncur dari balik mimbar. Yel-yel politik menggema ke angkasa hingga mampu menggetarkan pintu langit. Massa terhipnotis. Sosok pemimpin yang jujur dan adil membayang di setiap kali. Namun, ketika retorika dan kata-kata manis itu berhasil mengantarkan mereka dalam sebuah singgasana kekuasaan, rakyat mesti harus lebih banyak menelan ludah. Janji untuk memperbaiki hal-hal yang mendasar bagi rakyat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja, tak lebih hanya sebuah permainan retorika. Penguasa seringkali membangun pencitraan publik melalui gaya eufemistik untuk membesar-besarkan keberhasilan semu. Yang lebih memprihatinkan, penguasa tak berdaya dalam membersihkan praktik korupsi yang berlangsung dalam lingkaran kekuasaannya. Muncul Sengkuni-sengkuni gaya baru yang suka menjilat pantat atasan sehingga perilaku busuk yang mereka lakukan bisa terbungkus dengan rapi.

Dalam mengendalikan roda kekuasaan yang sarat intrik dan rentan terhadap berbagai macam bentuk kekacauan, dibutuhkan sosok pemimpin berkarakter Semar yang ahli dalam mengatasi berbagai macam krisis, meredam berbagai konflik, mencegah gejala disintegrasi bangsa, memberantas KKN; cerdas dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengangkat ekonomi rakyat. Semoga roh Batara Ismaya yang smart dan memiliki wisdom semacam itu “menitis” ke dalam nurani para pemimpin kita, baik yang berada di level kabupaten/kota, provinsi, maupun negara, hingga akhirnya mereka mampu mengantarkan bangsa dan negeri ini pada sebuah peradaban yang terhormat dan bermartabat. ***


Sunday, November 30, 2008

Yen Omong Sing Maton, Aja Mung Waton Ngomong

Link

Kalau berbicara yang mendasar, jangan hanya asal berbicara

Yen : kalau
Omong : omong, berbicara
Sing : yang
Maton : mendasar, beralasan
Aja : jangan
Mung : hanya
Waton : asal
Ngomong : berbicara

Arti yang tersirat
Ungkapan ini mengandung permainan kata-kata. Dalam ungkapan ini etrdapay dua buah kata yang hampir sama bentuknya, tetapi arti yang terkandung di dalamnya berbeda, ialah kata-kata: maton dan waton. Maton berarti mendasar atau beralasan; waton: berarti asala saja. Yang dimaksud oleh ungkapan ini ialah bila seseorang berbicara haruslah memperhatikan dasar atau pokok pembicaraan, jangan asal berbicara.

Nilai yang terkandung
Ungkapan ini mengandung ajaran atau pendidikan, agar orang senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Dia harus dapat memperhatikan tentang apa dia bicarakan, dalam forum apa dia berbicara, dalam suasana bagiamana, dan di hadapan siapa dia berbicara.

Latar belakang sejarah/falsafah
Masyarakat Jawa memegang teguh nilai ajaran mempan papan, yang maksudnya: orang harus panai menempatkan diri di dalam pergaulan. Berbicara kepada orang yang patut dihormati, harus disertai dengan pilihan kata dan sikap yang sopan. Tanpa itu semua, orang lain dapat menilai tidak sopan atau tidak tahu adat, berarti orang lain tidak akan menghormati dia. Ungkapan ini dekat dengan ajining dhiri ana ing pucuking lathi. Berbicara yang asal berbicara, akan dapat memerosotkan kehormatan orang yang berbicara.

Pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat
Di dalam kehidupan masyarakat, orang yang berbicara asal saja tanpa memperhatikan ujung pangkal pembicaraan, dikatakan dengan ungkapan: waton njeplak, waton mangap, waton muni, yang berarti asal mengeluarkan suara. Hal tersebut mengandung penilaian yang negatif.

Kedudukan di dalam kehidupan masyarakat
Akhir-akhir ini muncul istilah:asplak (asal njeplak) dan asbun (asal bunyi). Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang berbicara tidak maton melainkan hanya waton. Jelas ungkapan itu mengandung ejekan dan cemooh. Ungkapan yang berbunyi, “Yen omong sing maton, aja mung waton ngomong”, sampai saat ini masih berlaku dan tetap dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat.

(lea)


Thursday, November 20, 2008

Semar

Sumber : http://karatonsurakarta.com/semar.html


Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranoyo

Bebrodo = Membangun sarana dari dasar

Noyo = Nayoko = Utusan mangrasul

semar.jpg (2281 bytes)

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah untuk kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat". Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman Prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar Wayang Semar kiranya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya :

Yang wayang itu hanyalah kulit

Yang kulit itu bukan Hakekat

Samasekali bukan , Ia

Hanyalah lambang dan sifat-sifat

Nama-nama dan aspeknya

Yang dalam lambang itu Maya

Dalam Maya ada Ia

Ia adalah yang Maha Wisesa, Wenang wening

Ia tak tampak tapi ada

Ada ini sebagai ada yang pertama

Dan tidak pernah tidak ada

Adanya adalah tunggal

Adanya adalah Mutlak

Ia satu-satunya kenyataan

Ada adalah tak tampak mata

Gaib, misterius, samar

Karena yang ada mutlak itu Tunggal

Yang Tunggal adalah kebenaran

Kebenaran mutlak karena tak ada kebenaran yang mendua

Tan Hana Dharma Mngrwa

Jadi Sang Hyang Tunggal adalah Kebenaran

Sang Hyang Tunggal adalah Samarnya SEMAR

Samar adalah aspek sifat dan Nama

Samar ada pada SEMAR

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.

semar1.gif (30938 bytes)

Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".

Republik Telo

Sabtu, 22 Maret 2008 | 10:51 WIB
Republik Telo

Ketika rakyat di satu negara Afrika menderita kekurangan parah akan Vitamin A dalam gizi mereka, Badan Pangan Sedunia bukannya mengirim wortel, melainkan ubi jalar (Ipomoea batatas), alias telo atau telo rambat dalam bahasa Jawa. Bukankah wortel selama ini dikenal luas sebagai sayuran yang paling banyak mengandung Vitamin A? Ternyata, kandungan Vitamin A dalam ubi jalar jumlahnya empat kali lipat daripada yang dikandung wortel. Di samping itu, ubi jalar juga sekaligus memberikan kecukupan karbohidrat bagi rakyat Afrika yang kesrakat itu.


Di seluruh dunia, ubi jalar memang “menderita” pelecehan karena selalu dianggap sebagai bahan pangan murahan. Republik Rakyat Cina sebagai negara penghasil ubi jalar terbesar di dunia – Indonesia menduduki posisi nomor dua, lho menggunakan separuh produksinya untuk makanan ternak babi mereka. Padahal, di Amerika Serikat, ubi jalar merupakan salah satu sajian penting dalam sejarah kuliner mereka. Di semua pasar swalayan di Amerika Serikat, selalu kita dapat menemukan ubi jalar karena masih banyak dipakai dalam masakan mereka. Oprah Winfrey bahkan sempat memopulerkan ubi jalar demi alasan kesehatan dan tradisi.

Bakpao Telo dsb

Mie Goreng Telo


Di Amerika Serikat, orang masih sering rancu menyebut bahan pangan yang satu ini. Secara umum ubi jalar disebut sebagai sweet potato. Tetapi, sebagian orang juga menyebutnya sebagai yam. Ada pula yang semakin salah menyebut keladi atau talas sebagai yam. Keladi adalah taro root dalam bahasa Inggris.

Yam
memang mirip ubi jalar, tetapi warnanya lebih putih, dan mengandung lebih banyak pati. Yam diambil dari kata nyami – nama umbi ini dalam bahasa Afrika, untuk menyebut umbi yang sebetulnya tergolong dalam Dioscorea species. Sekalipun kedua nama ini dapat dipertukarkan, Departemen Pertanian Amerika Serikat mengharuskan penyebutan yam sebagai sweet potato.

Dalam tradisi kuliner Amerika – khususnya di bagian Selatan yang secara sejarah banyak dipengaruhi oleh tradisi kuliner Prancis – banyak dijumpai baked sweet potato sebagai sumber karbohidrat, khususnya untuk mendampingi masakan jenis stew yang berkuah kental. Baked sweet potato ini mirip ubi Cilembu yang dimasak dalam oven. Tetapi, berbeda dengan baked potato yang biasanya diisi dengan sour cream, mentega, rajangan daun bawang, dan bacon bits, baked sweet potato tidak di-dress sedemikian rupa. Ubi juga umum dipakai dalam masakan casseroles dan main courses. Banyak juga desserts yang dibuat dari ubi jalar, antara lain: sweet potato pie. Di Hawaii – dan juga di negara-negara Polinesia lainnya – ubi jalar sangat banyak dipakai dalam diet mereka.

Satu ubi jalar utuh mengandung lebih dari 8800 IU Vitamin A – artinya dua kali lipat dari kebutuhan harian minimum manusia terhadap vitamin ini. Jumlah kalorinya pun hanya 141, sehingga cocok untuk mereka yang harus menjaga berat badan. Selain itu, ubi jalar juga memberi kecukupan Vitamin C, zat besi, dan vitamin maupun mineral lainnya. Kalau Anda bicara dengan ahli gizi, mereka rata-rata menempatkan ubi jalar lebih tinggi daripada kentang. Sekalipun namanya sweet potato, tetapi ubi jalar justru lebih cocok bagi penderita diabetes karena dia men-stabil-kan gula darah.

Sebagai elemen kuliner, ubi jalar dapat kita jumpai di seluruh dunia. Di pinggir-pinggir jalan di Jepang, kita akan sering mendapati penjual yaki imo – ubi panggang – menjajakannya dari gerobag dorong. Dalam tempura moriawase kita selalu menemukan beberapa iris ubi jalar oranye yang digoreng dengan tepung. Di Thailand dan Vietnam – seperti juga di Indonesia – pun sering terlihat orang menjajakan ubi jalar rebus sebagai ganjal perut murah-meriah.

Belum lama ini saya sempat berkunjung kembali ke sebuah restoran yang khusus menjual berbagai makanan dari ubi jalar di Lawang, dekat Malang, Jawa Timur. Sekarang, di samping tempat asalnya di tepi jalan raya, perusahaan ini juga telah mengembangkan sebuah restoran baru yang diberi nama “Warung Daun”. Di salah satu dindingnya tertulis “Republik Telo”. Lucu juga!

Semula, rumah makan ini mengawali usahanya dengan memasarkan bakpao yang dibuat dari ubi jalar. Untuk bagian luarnya, tepung ubi jalar dicampur dengan terigu. Sedangkan untuk isinya, dipakai campuran ubi jalar dengan keju, kacang hijau, coklat, dan lain-lain.

Sukses mereka memasarkan bakpao telo kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan berbagai produk lainnya dari bahan baku yang sama. Hampir semuanya berwarna ungu karena bahan bakunya dari ubi jalar yang berwarna ungu. Mereka sangat kreatif menciptakan berbagai kue basah seperti: corobikang, brownies, dan banyak lagi macamnya. Dalam bentuk kering hadir pula kripik ubi jalar. Juga ada es krim dan jus dari ubi jalar.

Pada tahap berikutnya mereka mengembangkan mi yang dibuat dari ubi jalar. Warna mi-nya juga ungu. Sajian mi goreng telo dari rumah makan ini cukup mak nyuss! Tidak ada bedanya dengan mi goreng enak lainnya.

Belakangan ini mereka juga membuat bakpia telo yang malah langsung mendapat penghargaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai jajanan tradisional terbaik. Harus saya akui, bakpia yang sangat renyah bagian luarnya ini malah lebih bagus daripada bakpia terkenal dari satu kota di Jawa.

Ubi jalar yang dibudidayakan dalam skala industri oleh perusahaan ini semuanya berwarna ungu. Karena itu, semua produk derivatifnya pun berwarna ungu. Bukan saja ungu merupakan warna yang lebih cantik, tetapi ubi jalar ungu juga mengandung Vitamin A lebih banyak, sehingga bermanfaat bagi kesehatan mata kita. Sama dengan bayam merah yang lebih bagus dibanding bayam hijau.

Di Filipina juga populer sekali es krim yang dibuat dari ubi jalar ungu. Orang Filipina menyebut ubi jalar dengan nama ube, sangat mirip dengan bahasa kita. Di sana, es krim ube adalah yang nomor dua favorit setelah es krim mangga. Agaknya kita pun perlu mencontoh keberhasilan Filipina memasyarakatkan es krim ube yang bahkan disukai oleh para wisatawan. Di bandara internasional Manila, ada gerai yang hanya menyediakan es krim mangga dan ube khusus untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Dikemas rapi dengan dry ice, agar dapat “selamat” sampai di tujuan.

Daun ubi jalar juga merupakan sayuran murah yang sering dimakan orang. Di Solo ada sebuah sajian – hampir punah karena sudah semakin langka – yang disebut brambang asem. Sajian ini bahan utamanya adalah daun ubi jalar yang disebut jlegor dalam bahasa setempat. Jlegor direbus, lalu disiram dengan saus yang terbuat dari gula merah, asam jawa, cabe merah, bawang merah, terasi. Disantap dengan baceman tempe gembus yang terbuat dari ampas tahu. Sajian rakyat jelata yang memang sangat murah harganya. Ternyata, ketika saya berkunjung ke Taiwan, pun di sana ada masakan yang dibuat dari daun ubi jalar ini. Di Taiwan, ubi jalar juga diproses menjadi bahan bakar nabati (biofuel).

Ah, kenapa pula sebagian rakyat kita harus menderita kelaparan bila sebenarnya kita dapat menyediakan ubi rebus dan brambang asem sebagai salah satu alternatif pengayaan gizi? Sayangnya, paradigma kita sekarang selalu mengacu pada beras manakala kita menyoal pangan.

Mari kita masyarakatkan telo, dan me-nelo-kan masyarakat!


Bondan Winarno
bondanw@gmail.com

Saturday, October 25, 2008

Solo, WHC atau WTC ??


25 hingga 30 Oktober 2008 ini Kota Solo menjadi tuan rumah gelaran World Heritage Cities Conference & Expo. Seperti yang dijelaskan dalam situs resminyaWorld Heritage Cities Conference & Expoatau Konferensi Internasional Kota-kota Warisan Dunia (selanjutnya ditulis sebagai WHC) adalahsebuah forum yang didedikasikan kepada pelestarian terintegrasi warisan budaya benda  dan takbenda  pada kota-kota bersejarah, utamanya pada kota-kota yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, atau kota-kota yang memiliki warisan budaya takbenda  yang diakui oleh UNESCO. Setiap dua tahun konferensi ini mengumpulkan para pakar dalam bidang pelestarian kota bersejarah serta pemanfaatannya untuk pariwisata dan peningkatan perekonomian kota; juga para walikota, politikus dan birokrat yang, serta memberikan kesempatan guna bertukar pengalaman dan mendiskusikan berbagai masalah terkait.

WHC yang diselenggarakan di Kota Solo kali ini merupakan WHC ke-4 yang bertema “Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Pembangunan Kota Berkelanjutan”. Pemilihan Kota Solo sebagai tuan rumah event WHC tentunya sudah dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang cukup baik dan matang, namun benar sudah pas-kah Kota Solo secara kondisi sosial budaya untuk berperan sebagai tuan rumah WHC?? 

Beberapa waktu belakangan ini di Kota Solo baik itu oleh Pemkot maupun masyarakatnya gencar mengusung berbagai slogan yang bertujuan menunjukkan bahwa Kota Solo sebagai kota budaya. Berbagai slogan dipopulerkan di KotaSolo, antara lain : Solo Kota Budaya, Solo The Spirit of Java, Solo Kuthaku Jawa Budayaku, dsb. Dalam kaitannya dengan tema WHC yang salah satunya mengusung isu pembangunan kota berkelanjutan, mestinya Kota Solo juga harus dapat menunjukkan bahwa pembangunan di Kota Solo berkelanjutan dan berwawasan budaya. Sayangnya kondisi yang diharapkan, belumlah demikian. Solo sejak awal berdirinya hingga sekarang telah mengalami berbagai perubahan, baik fisik dan budayanya. Kota Solo dari waktu ke waktu selalu menampakkan adanya pergeseran budaya. Budaya jawa sebagai budaya asli Solo rupanya sekarang sudah tidak mendominasi suasana Kota Solo, hal ini tercermin dari suasana di Kota Solo itu sendiri. 

Apabila kita berjalan-jalan dan mencermati sudut-sudut Kota Solo ternyata budaya modern sudah jauh merasuk mengiringi berbagai pola dan aspek kehidupan masyarakatnya. Sepanjang jalan Slamet Riyadi yang notabene sebagai salah satu ‘wajah’ Kota Solo tidak menampakkan dominasi budaya Solo. Jajaran reklame dan berbagai identitas ekonomi lebih banyak menghiasi jalan protokol Kota Solo itu. Anjuran Pemkot untuk penulisan huruf jawa dalam berbagai identitas sosial juga tidak sepenuhnya dilaksanakan masyarakatnya. Berdirinya beberapa monumen (patung) juga tidak menambah kemurnian budaya Kota Solo. Pemagaran alun-alun dengan teralis yang ternyata sangat bertentangan dengan falsafah alun-alun itu sendiri, yaitu simbolisme sikap manusia yang mengumbar hawa nafsu duniawi. Taman Budaya Jawa Tengah yang sarat dengan pertunjukan budaya kalah diminati daripada Bioskop 21. Bumbu perdagangan (pasar malam) terasa lebih dominan dibandingkan esensi Grebeg Sekaten, Grebeg Maulud, Festival Bengawan Solo, dll. Berbagai pembangunan fisik nampaknya juga lebih diarahkan pada kepentingan ekonomi (perdagangan). Berdirinya beberapa apartemen mewah, mall dan pusat perdagangan cukup marak dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya semua itu tidak diikuti dengan pembangunan budaya secara besar-besaran.


Ternyata apabila kita analisis kebelakang, pergeseran dan perubahan budaya ini sudah terjadi sejak lama. Pada jaman kolonial Belanda masuknya nilai dan kepentingan yang ternyata ‘menabrak’ budaya setempat telah terjadi. Sebagai contoh, pembangunan rel kereta api sepanjang Jalan Slamet Riyadi oleh pemerintahan kolonial Belanda sebenarnya mengganggu laju budaya saat itu. Lokasi rel kereta api yang memotong garis lurus utara-selatan susunan bangunan Keraton, dari gapura Gladag hingga alun-alun kidul, secara simbolisme tidak sesuai dengan keutuhan simbolisasi bangunan keraton. Konstruksi dan susunan bangunan fisik Keraton Surakarta, mulai dari gapura Gladag, alun-alun lor,  bangsal Sri Manganti hingga gapura Gading adalah sarat makna dan simbol. Tiap bangunan fisik pada saat itu tidak hanya dibangun dengan dasar pertimbangan lokasi, namun juga pertimbangan budaya, utamanya simbol dan falsafah jawa. Hal tersebut tidak dimengerti oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan rel kereta api untuk tujuan transportasi Solo – Wonogiri tersebut merupakan wujud kepentingan ekonomi yang pada akhirnya mengganggu tatanan budaya yang sudah ada, karena ketidakselarasan pemikiran antara pemerintah kolonial yang berusaha membangun kota (ekonomi) dengan masyarakat yang sudah mempunyai nilai dan budaya lokal sendiri.

Menarik kesimpulan dari kondisi perkembangan sosial budaya di Kota Solo dari waktu ke waktu, maka sudah mampukah Kota Solo kedepan sebagai World Heritage Cities (WHC) atau malah lebih dominan bergeser menjadi World Trade Cities (WTC) ??

"Yen wis kliwat separo abad, jwa kongsi binabad "
Jika sudah lebih separuh abad, janganlah dihancurkan...
[ R.Ng. Ronggowarsito ]


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...