| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
Monday, December 8, 2008
dadigareng sent you a playlist: "Dhalang Jemblung - Campuran"
dadigareng sent you a playlist: "Lawak Goro-goro Pahlawan Sejati"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Kirun - Tumpeng Gate"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Sendratari Ramayana Prambanan"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Prajurit Jogokaryo"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Wayang Orang Humor"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Taman Sari Jogjakarta"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Kurawa Nyadhong Dhawuh"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Wayang Humor - Aji Saka"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Ki Anom Suroto - Limbukan"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Ki Anom Suroto - Goro-goro"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Ki Enthus - Goro-goro Dalang Edan"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
dadigareng sent you a playlist: "Ki Manteb Sudarsono - Dewa Ruci"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
Sunday, December 7, 2008
dadigareng sent you a playlist: "Dalang Canggih"
| | help center | e-mail options | report spam |
| dadigareng has shared a video playlist with you on YouTube. This is awesome! | |
| © 2008 YouTube, LLC | |
Friday, December 5, 2008
Masih adakah "SEMAR" dalam lingkaran Elite Kekuasaan?
Link
Para penggemar pakeliran wayang purwa, pasti sudah tidak asing lagi dengan tokoh Semar. Bersama ketiga anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, Semar seringkali hadir ketika dunia pakeliran mencapai tahap “gara-gara” alias klimaks yang menandai kacaunya situasi kehidupan di mayapada. Melalui karakternya yang khas dan tersamar, Semar mewakili basis kehidupan “wong cilik” yang seringkali tertindas dan menjadi korban pertarungan kaum elite yang tengah berebut kekuasaan.
Namun, Semar yang tampak adalah wadag kasar Janggan Semarasanta. Semar yang sesungguhnya adalah putra Sang Hyang Wisesa yang diberi anugerah mustika manik astagina yang mempunyai delapan daya (tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak pernah kedinginan). Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun alias kuncung. Semar atau Ismaya juga memiliki beberapa gelar sekaligus, yakni Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, atau Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri (alam kosong) dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia.
Siapakah Janggan Semarasanta itu? Dalam jagad pakeliran, dia adalah anak sulung Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan yang berperawakan cebol, ipel-ipel, dan berkulit hitam. Sedangkan, Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan merupakan salah satu keturunan Batara Semar, hasil pernikahannya dengan Dewi Sanggani, putri Sanghyang Hening. Karena tidak diperkenankan menguasai kehidupan manusia di mayapada, Batara Ismaya menitis ke wadag Janggan Semarasanta yang akhirnya menjadi abdi setia di Pertapaan Saptaarga.
Kisahnya bermula ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau. Dia lari sampai ke Saptaarga hingga akhirnya ditolong oleh Resi Kanumanasa. Oleh Sang Resi, kedua harimau tersebut diruwat dan berubahlah menjadi bidadari yang molek. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta, sedangkan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itulah Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarasanta.
Semar
1. Petruk 2. Gareng 3. Bagong
Sebagai pamong atau abdi, Janggan Semarasanta dikenal sangat setia kepada bendara alias Tuan-nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan, sehingga hanya para resi, pendeta, atau ksatria yang mampu menjalani laku prihatin dan kuat diemong oleh Janggan Semarasanta. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat diemong oleh Janggan Semarasanta, yakni Resi Manumanasa sampai enam keturunannya; Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata, dan Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan roh eyangnya; Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta hanyalah seorang manusia cebol jelek dan hitam. Namun, sesungguhnya dia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
***
Lantas, apa hubungan antara Semar dan konteks kekuasaan kontemporer saat ini? Secara langsung tidak ada memang, apalagi Semar hanyalah sebatas tokoh dalam mitos pewayangan yang tidak memiliki urgensi dalam lingkaran elite kekuasaan. Meski demikian, karakter tokoh Semar agaknya masih amat relevan jika dikaitkan dengan pola-pola kepemimpinan dalam lingkaran elite kekuasaan kontemporer saat ini. Pertanyaan menggoda yang layak dijawab adalah masih adakah “Semar” dalam lingkaran elite kekuasaan?
Yups, sebagai simbol kearifan, terutama dalam dunia wayang, Semar merupakan dewa yang menyamar sebagai kawula alit (orang kecil) untuk mengembalikan perdamaian ketika negara dalam keadaan genting. Semar bisa jadi merupakan tokoh yang menyimpan sumber kepemimpinan kharismatik sekaligus juga rasional. Ia dikenal ahli dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial yang terbukti telah mampu meredam gejolak dan kemelut yang meruyak di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dia dikenal konsisten dalam bersikap, tegas mengambil keputusan, dan tak pandang bulu dalam memberikan sanksi hukum kepada siapa pun yang nyata-nyata terbukti melawan hukum.
Yang mengagumkan, Semar dikenal tidak banyak cakap dan tidak suka menjual janji-janji menggiurkan kepada rakyatnya. Dia lebih suka mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapan rakyat. Selain itu, ia juga menyimpan kekuatan fisik yang dikenal dalam idiom Jawa sebagai kadigdayaan dan kekuatan supranatural yang luar biasa (Abdul Munir Mulkhan, 2001).
Segala kelebihan dalam diri Semar itu baru bisa digunakan ketika penindasan dan ketidakadilan kian merajalela. Dia tidak muncul setiap saat. Semar butuh momen yang tepat, yakni ketika kondisi sosial-politik mengalami chaos dan kekacauan. Dia akan muncul secara tiba-tiba. Kemelut akan segera berakhir ketika Semar mengoperasikan kedigdayaan-nya, sehingga memengaruhi keputusan pemerintahan dan kekuasaan para dewata.
Semar memang hanya ada dalam dunia mitologi. Meski demikian, tak ada salahnya jika mitos itu menjadi sebuah kesadaran budaya dan politik sebagai referensi seluruh dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Semar identik dengan kepintaran, kecerdikan, kesempurnaan, kebijakan, dan sifat terpuji lainnya. Nah, lantas memang masih adakah “Semar” dalam konteks lingkaran elite kekuasaan di negeri ini?
Pertanyaan semacam itu agaknya tidak mudah untuk dijawab. Realitas sosial-politik di negeri ini, diakui atau tidak, seringkali membuat kita sesak napas. Dalam kondisi masyarakat kita yang paternalistis, rakyat akan dengan mudah menyaksikan bagaimana kaum elite yang berada dalam lingkaran kekuasaan itu mengelola dan mengendalikan negara. Secara jujur juga mesti diakui, kaum elite kita belum sepenuhnya mampu membebaskan diri dari godaan kanan-kiri yang “memaksa” mereka terlibat dalam permainan busuk, korup, hasrat menguasai orang lain, sikap memperkaya diri sendiri, benci terhadap kelompok lain, rakus kekuasaan, mencuri harta rakyat, dan sederet sikap tak terpuji lainnya.
Kita selalu ingat betapa mereka sangat cerdas dalam membangun opini publik ketika berkampanye. Taburan retorika dan kata-kata manis meluncur dari balik mimbar. Yel-yel politik menggema ke angkasa hingga mampu menggetarkan pintu langit. Massa terhipnotis. Sosok pemimpin yang jujur dan adil membayang di setiap kali. Namun, ketika retorika dan kata-kata manis itu berhasil mengantarkan mereka dalam sebuah singgasana kekuasaan, rakyat mesti harus lebih banyak menelan ludah. Janji untuk memperbaiki hal-hal yang mendasar bagi rakyat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja, tak lebih hanya sebuah permainan retorika. Penguasa seringkali membangun pencitraan publik melalui gaya eufemistik untuk membesar-besarkan keberhasilan semu. Yang lebih memprihatinkan, penguasa tak berdaya dalam membersihkan praktik korupsi yang berlangsung dalam lingkaran kekuasaannya. Muncul Sengkuni-sengkuni gaya baru yang suka menjilat pantat atasan sehingga perilaku busuk yang mereka lakukan bisa terbungkus dengan rapi.
Dalam mengendalikan roda kekuasaan yang sarat intrik dan rentan terhadap berbagai macam bentuk kekacauan, dibutuhkan sosok pemimpin berkarakter Semar yang ahli dalam mengatasi berbagai macam krisis, meredam berbagai konflik, mencegah gejala disintegrasi bangsa, memberantas KKN; cerdas dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengangkat ekonomi rakyat. Semoga roh Batara Ismaya yang smart dan memiliki wisdom semacam itu “menitis” ke dalam nurani para pemimpin kita, baik yang berada di level kabupaten/kota, provinsi, maupun negara, hingga akhirnya mereka mampu mengantarkan bangsa dan negeri ini pada sebuah peradaban yang terhormat dan bermartabat. ***
Friday, November 28, 2008
panakawans
panakawans
This are the three sons of Semar, namely : Cepot, Petruk and Gareng. The dalang Endin Sumawijaya, who learnt me basis of wayang golek, make them for me towards 1985.
Gxi estas la tri filoj de Semar : Cepot, Petruk kaj Gareng. La pupisto Endin Sumawijaya kiu lernis al mi fundamentojn de wayang golek, faris gxin por mi cirkaux de la jaro 1985.
Gareng- Traditional Indonesian Shadow Puppet
Gareng- Traditional Indonesian Shadow Puppet
A man with misshapen arms and cross-eyes
Wednesday, November 19, 2008
Gareng Sayang, Gareng Malang
RUMAH itu terletak seratus meter agak menjorok ke dalam gang sempit. Catnya kusam, beberapa dindingnya tampak cuwil-cuwil. Baunya, alih-alih parfum ruangan yang wangi, lebih mirip gombal basah yang beberapa hari ndak kering.
Nafas berat terdengar dari dalam rumah. Cenil Mince, tampak tergolek di kursi malas rotan yang mulai rantas. Dia mentelengi tivi butut hitam-putih yang gambarnya kerap kabur dirubung semut. Dalam hati, Cenil Mince meratap pedih, Andai hidupku berubah, ndadakan kaya bergelimang harta. Hidup serba ada seperti cerita-cerita sinetron itu,..tapi,..ah..
Tiba-tiba, sebuah suara cempreng membuyarkan lamunan Cenil Mince. ''Bune, mimpimu bakal terwujud. Aku dapat kerja! Sak miliar sebulan! Bune mo beli mobil apa?'' seru Gareng. Cenil Mince tak memedulikan pekerjaan apa yang bakal dilakoni suaminya. ''Beneran nih Dad? Harley dong, laptop juga, makan-makan, nih,'' celetuk Al Khaereng, anak Gareng, dari kamar yang lembab.
Status sosial dan pergaulan Gareng pun berubah drastis. Orang Kaya Baru (OKB) alias kere mungah bale. Semua yang dulu hanya bisa diimpikan sambil ngiler, diborong semuanya. Rumah mewah, tanah berhektar-hektar, Rolls Royce terbaru, semua punya.
Dengan mobil yang masih kinyis-kinyis, plus kacamata riben, Gareng pongah menerobos jalanan Karang Kadempel. Ayah Gareng, Semar, yang berpapasan hanya bisa berkata lirih. ''Gong, itu pengusaha. Gareng lagi tidur,'' katanya mencoba menentramkan batin yang pedih. Bagong yang tak mudeng maksud romonya itu hanya melongo.
Dan pagi itu, dengan kekayaannya, Gareng bisa menyihir aktivitas pasar pagi Karang Kadempel. Semua diam, melihat pintu Rolls Royce yang terbuka pelan. Cenil Mince keluar dari mobil dengan jalan dianggun-anggunkan. Semua pedagang pasar menawarkan dagangannya. Dan semua pun diborong Gareng hingga ludes. Satu jam berlalu, dengan bagasi tetap terbuka karena penuh belanjaan, Rolls Royce kembali melaju.
''Wah, sugih tapi pecor ya,'' ujar Lik Prenjak, penjual bumbon. ''Jarene, untuk operasi kudu ke Singapur. Dite kurang kali,'' sahut Yu Saodah, rentenir. Sriwing-sriwing, Gareng menangkap obrolan para penjual itu. Mereka menertawakan Gareng yang kakinya cacat dan matanya kero. Gareng berusaha menguat-nguatkan hati.
Menjelang petang, Cenil Mince mengajak dinner ke Ngamarta Grand Mall. Dengan dandanan serba putih, Cenil Mince menggamit lengan tuxedo Gareng. Mereka pelan melintasi food court memilih menu. Mereka pun tak lagi memperhatikan langkah. Dabrus, separuh tubuh Gareng menabrak seorang cewek manis yang dirangkul cowoknya.
''Bah..macam apa pula kau, jalan liat-liat bah," emosi si cowok dengan logat Medan kental. ''Bah..Bah..abahmu apa? Ente yang salah jalur,'' sembur Gareng. Perang kata menghentikan beberapa pengunjung mall. Entah dari mana datangnya ada suara, ''Udahlah, liat tuh dia punya mata, pakein kacamata kuda baru yahuuud!" Menggelegarlah tawa di penjuru mall. Dengan wajah merah padam, Gareng setengah berlari keluar mall.
Dengan kuncuran modal Gareng juga, Yayasan Awewek Geulis bikinan Cenil Mince bisa mendatangkan Dewi Supraba (Miss Universe). Tak dinyana, aura kewibawaan Gareng dalam sambutan telah menarik simpati Dewi Supraba. Singkat cerita, dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan mereka sering kencan jalan bareng. Singkat ceritanya lagi, mereka sepaham mengakhiri kisah mereka di kursi pelaminan.
Gosip tersebut terbawa angin sampai di Kayangan. Rapat pleno khusus untuk menyingkapi kasus itu diadakan. Hasilnya, sidang dewa mengutas Narada untuk menemui Gareng. Tengah malam, Narada menemui Gareng dalam mimpinya. ''Untuk mendapatkan Supraba, tidak cukup cuma kaya. Tapi harus sempurna fisiknya,'' ujar Narada. Dengan keringat dingin sak gajah-gajah, Gareng melonjat dari kursi malasnya. Rahangnya dikatupkan kuat-kuat, tubuh menggigil menahan emosi.
Cepat diputar kode angka brankas, dihitungnya nominal yang tercatat dan segera dia hubungi Dr Sang Hyang Antiboga, jagoan face-off dan modifikasi tulang nomor wahid.
''Bos..jane wajahmu dah oce. Mau diubah kaya apa lagi? Brad Pitt, Leonardo di Caprio, atau dalange wayang lindur?" tanya Dr Antaboga. ''Manut Dok, yang penting nguuanteng, kakiku lempeng. Dok, sak gini cukup?'' ujar Gareng sambil menuliskan angka nominal. Setelah dua belas jam, pintu kamar operasi terbuka. Amben dorong dengan tubuh Gareng terbaring dimasukan ICU.
Pertama yang diminta Gareng ketika tersadar adalah kaca pangilon. Gareng terseyum-senyum dan mematut-matutkan diri di depan kaca. Rasa puas tergambar jelas di wajahnya. Matanya tak kero lagi dan kakinya sempurna.
Keluar rumah sakit, Gareng bak artis sinetron. Digrumuti cewek dan dielu-elukan di mana-mana. Tak hanya Supraba, Wilutomo juga tertarik bersaing mendapat tempat di hati Gareng.
Malam dihiasi barisan bintang-bintang. Di sudut ruangan yang dipadu musik romantis. Dihiasi lilin, Gareng dan Supraba entah ngobrolin apa, asyik bercengkrama. Tiba-tiba keasikan mereka dikagetkan serombongan aparat negara tanpa seragam. Mereka menggelandang Gareng dengan alasan menjadi agen spionase internasional. Meja hijau mengantarkan Gareng ke hotel prodeo selama lima belas tahun.
Sore hari lima belas tahun kemudian, Semar, Bagong dan Petruk berkumpul. Di halaman, mereka asik berbagi tempe gembus. ''Hidup di bui pikiran bingung, makan susah, pulang tinggal tulang..," Pengamen dengan gitar bututnya yang ternyata Gareng baru keluara penjara memecah keasikan mereka.
''Reng...Reng hatimu rapuh, ketidaksempurnaan tubuhmu itu punya hikmah. Tapi, saat kamu menjual negara itu musibah," bisik Semar. Gareng nangis meraung. Sedangkan Semar melihat lagi orang di seluruh dunia direkrut jaringan internasional untuk saling menyakiti. (*)
Thursday, August 14, 2008
14 TOP PANTUN THE-LA-DUX (we want more)
01. Merintih-rintih minta gula batu, rambute putih wajahe mecucu
(dadi ya tambah huwelek bangetzz)
02. Theklek kecemplung kali, Bojoku ngilang ra tak goleki
(iki jenenge wong lanang ora tanggung jawab, aja ditiru)
03. Gembok dinggo ngunci lawang, Durug sida ndemok wis konangan
(hehehee... rasakno le)
04. Tuku lemet nyang Gunung Kidul, Kathoke mepet lempere mbrenjul.
(heheheheh, mula yen sangu akeh aja dikanthongi ana kathok kang)
05. Balon gas terbang membumbung, sepertinya hilang diangkasaMbah Kung tambah mbambung, mbah ti atine nelangsa
(iki jenenge tuwek-tuwek keladi selot tuwek selot medeni...)
06. Buceng tuker, mlebune kenceng metune mlungker.
(heheheh uthik-uthk upil alias ngupil cah, rasah mikir ngeres ... dasar jorok kabeh)
07. Kodhok mlayu-mlayu, wis disogok ra metu-metu(nyogok kucing neng urung-urung kang)
08. Rokok Dji Sam Soe, Yen ra mlebu aja nesu
(iki anake ora mlebu sekolah)
09. Ana kethek karo ngilo nunggang jaran, Aja ngenyek karo dudo sing kapiran
10. Sendhang putri akeh lumute, bokong gedhi akeh rambute
(bokonge orang hutan)
11. Kena graji dikira seni, wis dadi kaji kok sih seneng bikini
12. Tombak ujung belati, sama runcingnya, Belum nembak si jantung hati kok nemu buntingnya.
(sial men nasibe..)
13. Doro mangan pari, rung dadi rondho wis golek ganti (dasare crongoh ya ngono kuwi)
14. Jangan tahu dicampuri kluwih, Yen ora lunyu rasane perih
(Kerokan, kerokan... rasah mikir sing ngeres-ngeres cah)
cathetan :
yen arep nambahi tambahi wae, rasah nunggu lengkap, ngono wae kok repot. hugs
--
Posting oleh d'Gareng ke dadiGareng pada 8/14/2008 08:33:00 AM